Aramco Tutup Kilang Minyak Terbesar Akibat Konflik Iran vs AS-Israel



JAKARTA — Perusahaan minyak besar asal Arab Saudi, Aramco, mengambil tindakan darurat dengan menutup kilang terbesarnya di Ras Tanura, yang berada di pesisir Teluk Persia. Penutupan ini dilakukan setelah adanya serangan drone yang terjadi di kawasan tersebut.

Serangan drone ini terjadi dalam konteks ketegangan geopolitik yang meningkat tajam di kawasan Timur Tengah. Ketegangan ini semakin memuncak setelah adanya serangan militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas di Iran pada hari Sabtu, 28 Februari 2026.

Aramco memutuskan untuk menutup kilang dengan kapasitas 550.000 barel per hari sebagai langkah pencegahan sambil melakukan evaluasi terhadap kerusakan yang mungkin terjadi. Menurut laporan dari Bloomberg, kilang tersebut sempat terbakar akibat puing-puing dari dua drone yang mencoba menyerang fasilitas tersebut.

Kilang Ras Tanura merupakan salah satu pemasok utama bahan bakar transportasi seperti diesel untuk pembeli di Eropa. Meskipun kilang ini juga memproduksi bensin, jumlahnya relatif kecil dibandingkan produksi bahan bakar lainnya.

Di sekitar kilang terdapat terminal ekspor terbesar milik Aramco untuk minyak mentah dan produk minyak. Terminal ini dilengkapi dengan tangki penyimpanan, dermaga di pelabuhan, serta titik pemuatan lepas pantai.

Perkembangan ini memperburuk situasi pasar minyak global karena meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga minyak dunia kembali melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar akan dampak penutupan efektif Selat Hormuz akibat konflik antara AS dan Israel melawan Iran.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Senin, 2 Maret 2026, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Mei naik sebesar 6,99% menjadi US$77,96 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak April menguat 6,61% ke level US$71,45 per barel.

Harga minyak acuan global Brent sempat melonjak hingga 13%—yang merupakan angka tertinggi sejak Januari 2025—sebelum stabil di kisaran US$76 per barel atau naik sekitar 5%.

Menanggapi situasi yang semakin memburuk, kelompok OPEC+ dalam pertemuan akhir pekan menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai bulan depan. Aliansi yang mencakup negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, dan Rusia ini sebelumnya diperkirakan akan melanjutkan kenaikan produksi secara bertahap sebelum pecahnya konflik pada Sabtu lalu.

Pos terkait