Aramco Tutup Kilang Minyak Terbesar Akibat Perang Iran-AS

Aa1xmcvg 2
Aa1xmcvg 2

Kilang minyak terbesar milik perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, yaitu Ras Tanura, ditutup sementara pada hari Senin (2/3). Kilang yang memiliki kapasitas 550 ribu barel per hari (bph) ini ditutup setelah mengalami serangan drone dalam konteks konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).

“Beberapa unit kilang ditutup sebagai langkah pencegahan. Namun, pasokan minyak dan produk turunannya ke pasar lokal tetap stabil,” demikian pernyataan dari kantor berita negara Saudi SPA.

Menurut laporan Reuters, dua drone ditemukan di area kilang tersebut, dengan puing-puing yang menyebabkan kebakaran di beberapa titik. Hingga saat ini, tidak ada korban luka yang dilaporkan akibat serangan tersebut.

Ras Tanura berada di pesisir Teluk Arab dan berfungsi sebagai terminal ekspor untuk minyak mentah Arab Saudi. “Situasi di kilang minyak Ras Tanura berada di bawah kendali,” kata seorang sumber.

Meski begitu, pasar tetap khawatir karena penutupan kilang ini terjadi bersamaan dengan penghentian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu rute pengiriman minyak utama dunia. Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati jalur tersebut.

“Serangan terhadap kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi menandai eskalasi signifikan, dengan infrastruktur energi Teluk kini menjadi sasaran utama Iran,” ujar Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah di Verisk Maplecroft.

Menurutnya, serangan ini kemungkinan bisa memicu Arab Saudi dan negara-negara di kawasan Gulf Cooperation Council (GCC), seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab, untuk bergabung dalam operasi militer AS dan Israel melawan Iran.

Penyerangan kilang besar bukanlah kali pertama. Fasilitas energi Arab Saudi yang sangat dijaga ketat telah menjadi target sebelumnya, khususnya pada September 2019, ketika serangan drone dan rudal terhadap pabrik Abqaiq dan Khurais menghentikan lebih dari setengah produksi minyak mentah kerajaan.

Selain itu, kilang ini juga pernah diserang oleh kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran pada tahun 2021.

Tidak hanya kilang

Tidak hanya kilang, ketegangan antara tiga negara tersebut akhirnya memaksa negara-negara menutup fasilitas migas di seluruh Timur Tengah.

Pada hari ketiga konflik tersebut, produksi minyak di Kurdistan Irak juga ditangguhkan. Selain itu, beberapa ladang gas di Israel juga ditutup. Kondisi ini menjadi hambatan bagi ekspor komoditas energi ke Mesir.

Irak telah menghentikan produksi lapangan minyak mereka di Kurdistan yang mengekspor 200 ribu bph minyak melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki. Selain itu, perusahaan Dana Gas dan HKN Energy juga menghentikan produksi di lapangan migas mereka sebagai tindakan pencegahan, tanpa adanya laporan kerusakan.

Di lepas pantai Israel, lapangan gas Leviathan yang dioperasikan oleh Chevron ditutup pada Sabtu lalu. Hal serupa juga dilakukan oleh Energean, yang menghentikan operasional lapangan gas mereka.

Pos terkait