Sejarah Masjid Alit dan Peran Ki Ageng Gribig dalam Penyebaran Islam di Klaten
Masjid Alit, yang terletak di Desa Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, merupakan salah satu masjid tertua di wilayah tersebut. Dibangun oleh Ki Ageng Gribig pada awal abad ke-17, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat dakwah awal Islam di daerah tersebut. Lokasinya berada sekitar 10 km di timur laut pusat kota Klaten dan berada dalam satu kompleks dengan makam-makam kuno maupun baru.
Arsitektur Tradisional dan Fasilitas Lengkap
Masjid Alit memiliki arsitektur khas Indonesia kuno yang masih terawat hingga saat ini. Beberapa fasilitas utama yang tersedia antara lain:
* Ruang utama shalat
* Serambi dan pawestren
* Tempat wudu
* Kentungan kayu
* Mimbar
Di sebelah barat masjid terdapat makam dengan dua cungkup. Cungkup utara berisi makam Ki Minta Raga dan Ny Damarjati, sahabat dekat Ki Ageng Gribig, sedangkan cungkup selatan berisi lima makam lainnya. Masjid ini juga dibatasi oleh Sungai Soka di selatan, Masjid Gedhe Jatinom dan makam Ki Ageng Gribig di barat, pemukiman penduduk di timur, serta Pasar Gabus Jatinom di utara.
Awal Misi Dakwah Ki Ageng Gribig
Menurut penelitian Retno Kartini Savitaningrum Imansyah dalam tulisan Deskripsi Masjid Alit Ki Ageng Gribig dan Dakwah Kultural Awal di Klaten, Ki Ageng Gribig datang ke wilayah Jatinom yang kala itu masih dipenuhi hutan jati. Berdasarkan saran dari Sunan Pandanaran, ia mulai menyebarkan ajaran Islam dengan membangun masjid, membuat beduk, serta rumah untuk pengikutnya. Sebagian besar pohon jati tua digunakan untuk membangun masjid dan rumah, sehingga hanya tersisa pohon jati muda. Dari situlah muncul nama “Jatinom”, berasal dari kata “jati enom” atau pohon jati muda.
Ki Ageng Gribig dikenal dekat dengan Sultan Agung, sering berdialog membahas agama maupun urusan pemerintahan. Sebagai penghargaan, Sultan Agung memberikan wilayah perdikan Jatinom kepadanya, yang menjadi basis awal kegiatan dakwah Islam.
Sosok Ki Ageng Gribig dan Warisan Budaya
Ki Ageng Gribig, semasa muda bernama Syekh Wasibagno Timur, adalah ulama penting dalam penyebaran Islam di Klaten dan sekitarnya. Ia merupakan murid Sunan Pandanaran, yang juga murid Sunan Kalijaga, dan disebut keturunan Raja Brawijaya V dari Majapahit. Ia dikenal mengajarkan Islam secara halus dan mengakomodasi tradisi lokal sehingga mudah diterima masyarakat.
Selain membangun masjid, Ki Ageng Gribig juga mewariskan tradisi keagamaan Yaqawiyu, yakni penyebaran apem yang menjadi simbol permohonan ampun dan rezeki dari Allah. Tradisi ini masih berlangsung setiap bulan Safar, diikuti ribuan orang.
Tradisi Yaqawiyu dan Apem
Dalam tradisi Yaqawiyu, masyarakat berebut apem yang diartikan dari kata “afwum” atau ampunan. Doa yang selalu dilantunkan Ki Ageng Gribig saat prosesi adalah:
“Ya qowiyyu qowwina wal muslimin ya qowiyyu ya rozaq warzuqna wal muslimin”
Maknanya: “Ya Tuhan Yang Mahakuat, semoga Engkau memberikan kekuatan dan rezeki kepada kami semua kaum muslimin.” Seruan ini juga menjadi kalimat semangat pasukan Sultan Agung saat melawan VOC.
Miniatur Masjid Alit kini diarak dalam prosesi Yaqawiyu sebagai bentuk pelestarian sejarah.
Peran Masjid Alit Hingga Kini
Meskipun Masjid Alit kini tak lagi menjadi pusat dakwah intensif, masjid ini tetap berfungsi sebagai tempat ibadah dan pengajian. Kegiatan keagamaan seperti salat lima waktu, terawih, salat Jumat, perayaan Idul Fitri/Adha, pengajian majelis taklim, musyawarah, dan prosesi Yaqawiyu masih rutin dilakukan.
Upaya pemugaran terus dilakukan agar bangunan tetap terawat, namun identitas historisnya sebagai peninggalan Ki Ageng Gribig tetap terjaga. Masjid ini menjadi saksi sejarah awal penyebaran Islam di Jatinom dan simbol warisan budaya Islam yang lestari hingga saat ini.





