Astra (ASII) Cetak Laba Bersih Rp32,76 Triliun di 2025, Turun 3,34%

Aa1x9cew
Aa1x9cew



JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan penurunan pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2025, yang dipengaruhi oleh harga batu bara yang lebih rendah serta penurunan permintaan pasar mobil baru.

Pendapatan bersih Astra pada 2025 mencapai Rp323,39 triliun atau mengalami penurunan sebesar 1,54% dibandingkan dengan pendapatan sebesar Rp328,48 triliun pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan data perusahaan, penurunan pendapatan ASII terutama disebabkan oleh penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru. Namun, kinerja yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan bisnis sepeda motor berhasil mengimbangi penurunan tersebut.

Selain itu, beban pokok pendapatan Astra pada 2025 sebesar Rp251,94 triliun, turun dari Rp255,42 triliun pada 2024. Hal ini menyebabkan laba bruto Astra turun sebesar 2,21% YoY, dari Rp73,06 triliun menjadi Rp71,44 triliun.

Dalam laporan tersebut, Astra juga mengeluarkan berbagai biaya operasional seperti beban penjualan sebesar Rp11,74 triliun, beban umum dan administrasi sebesar Rp21,03 triliun, beban keuangan sebesar Rp3,73 triliun, serta beban pajak penghasilan sebesar Rp9,08 triliun sepanjang tahun 2025.

Akibatnya, laba yang diatribusikan kepada entitas induk atau laba bersih Astra mengalami penurunan sebesar 3,34% YoY, dari Rp33,9 triliun pada 2024 menjadi Rp32,76 triliun pada 2025.

Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International, menjelaskan penyebab utama penurunan kinerja perseroan pada 2025.

“Pada 2025, laba grup mengalami penurunan terutama disebabkan oleh harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).

Lebih lanjut, laba bersih ASII pada 2025 berasal dari berbagai divisi, antara lain:

  • Divisi otomotif & mobilitas: Rp11,36 triliun
  • Jasa keuangan: Rp8,95 triliun
  • Alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi: Rp9,09 triliun
  • Infrastruktur: Rp1,25 triliun
  • Agribisnis: Rp1,17 triliun
  • Properti: Rp719 miliar
  • Teknologi informasi: Rp208 miliar

Kontribusi laba bersih dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi mengalami penurunan sebesar 24% YoY, turun dari Rp11,99 triliun pada 2024.

Meskipun kondisi operasional beberapa bisnis Astra masih menantang di masa depan, Djony menilai sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik.

“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” tambahnya.

Astra International Tbk. – TradingView

Pos terkait