Atlet Kota Pasuruan Protes Pemangkasan Bonus
Atlet asal Kota Pasuruan kembali menggelar aksi protes terhadap kebijakan pemangkasan bonus yang diberikan kepada para atlet peraih medali di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur. Aksi ini dilakukan oleh puluhan anggota Gerakan Muda Forum Komunikasi Putera-Puteri TNI Polri (GM FKPPI) Kota Pasuruan, yang berlangsung di depan Kantor Walikota Pasuruan pada Senin (2/3/2026). Mereka menilai bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk ingkar janji dan tidak peduli terhadap prestasi atlet.
Perubahan Kebijakan Bonus
Pemangkasan bonus ini telah menjadi isu yang mendapat perhatian luas. Pada Porprov VIII Jatim 2023, Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan memberikan bonus bagi atlet peraih emas senilai Rp 30 juta, medali perak Rp 20 juta, dan perunggu Rp 10 juta. Namun, untuk Porprov IX Jatim 2025, besaran bonus dikurangi drastis menjadi Rp 10 juta untuk medali emas, Rp 7,5 juta untuk medali perak, dan Rp 5 juta untuk perunggu.
Menurut Ayik Usaha, Ketua GM FKPPI Kota Pasuruan sekaligus koordinator aksi, hal ini dinilai tidak adil. “Karena selama ini atlet yang berprestasi itu latihan mandiri yang banyak meluangkan waktu dan biaya sendiri,” ujarnya.
Desakan dari GM FKPPI
Dengan aksinya, GM FKPPI meminta Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo untuk serius dalam menjaga prestasi para atlet. Salah satu caranya adalah dengan memberi bonus yang sepadan, bukan memangkas besaran bonus yang sudah dijanjikan. “Jika tidak mampu memberikan bonus pada atlet yang prestasi, lebih baik mundur,” katanya.
Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, telah merencanakan tambahan bonus atlet sebagai ganti dari kebijakan pemangkasan melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Ia menyatakan bahwa di tahun ini konstruksinya akan di perubahan APBD untuk mencoba memenuhi apa yang sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya.
Prestasi Nurul Akmal yang Menginspirasi
Selain atlet Kota Pasuruan, ada juga atlet lain yang mengalami kesedihan akibat kurangnya apresiasi dari pihak terkait. Nama Indonesia yang harum dikancah dunia karena prestasi gemilang Nurul Akmal seolah tak sebanding dengan apa yang diterimanya saat ini. Nurul Akmal adalah lifter andalan Indonesia yang berasal dari Aceh.
Baru-baru ini, Nurul Akmal resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Banda Aceh. Meski begitu, status tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi sang atlet. Melalui akun Instagram pribadinya, @nurulakmal_12, ia mengunggah foto mengenakan seragam Korpri dengan keterangan tulisan bersyukur meski hanya berstatus PPPK Paruh Waktu, ditambah dengan emotikon sedih.
Kehidupan dan Prestasi Nurul Akmal
Bakat Nurul Akmal mulai tercium saat ia duduk di bangku kelas satu SMA pada 2010. Saat itu, pelatih lifter Aceh, Efendi Eria, menemukan bakat terpendam Nurul ketika melihatnya sedang mengangkut padi di kampung halamannya, Desa Serbajaman Tunong. Ketekunannya berlatih membawanya menjadi lifter putri pertama Indonesia yang mampu lolos di kelas berat pada Olimpiade 2020 Tokyo.
Catatan ini spesial karena Indonesia biasanya hanya meloloskan atlet di kelas ringan. Selain itu, Nurul menjadi atlet asal Aceh pertama yang tampil di Olimpiade setelah penantian selama 33 tahun. Deretan prestasinya pun mentereng, mulai dari medali emas Asian Games 2018 (test event), medali perak Islamic Solidarity Games 2017, hingga raihan medali di SEA Games 2021 dan 2023.





