Ayah Nizam Terbukti Anggota Geng, LPSK Ungkap Ancaman pada Ibu Korban

129336447 E436a6fb F336 480d 9203 471b15526bd4 20
129336447 E436a6fb F336 480d 9203 471b15526bd4 20

Latar Belakang Keluarga Nizam Syafei Terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat

Kasus kematian Nizam Syafei (13) yang dianiaya oleh ibu tirinya hingga tewas telah mengungkap fakta-fakta penting terkait latar belakang keluarganya. Informasi ini terungkap dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Komisi III DPR RI, Senin (2/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyampaikan bahwa ayah kandung Nizam, Anwar Satibi, merupakan anggota dari kelompok geng. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan saksi kunci dalam kasus ini.

Wakil Ketua LPSK, Sri Suparyati, menjelaskan bahwa ayah kandung korban adalah bagian dari kelompok geng. Ia meminta pihak kepolisian untuk memberikan perhatian lebih terhadap potensi gangguan yang mungkin muncul selama proses hukum berlangsung.

“Kami juga menginformasikan bahwa mantan suami ibu Lisna ini kebetulan adalah anggota geng, yang menurut saya juga patut untuk diatensi lebih lanjut kepada bapak kepolisian ya khususnya,” ujar Sri Suparyati.

Ancaman yang Mengganggu Kondisi Psikologis Ibu Kandung

Selain itu, LPSK juga mengonfirmasi bahwa ibu kandung Nizam, Lisnawati, mengalami gangguan psikologis akibat tekanan yang terus-menerus diterimanya. Sejak melaporkan kasus kematian anaknya, Lisnawati terus menerima pesan ancaman melalui SMS maupun WhatsApp. Pesan-pesan tersebut berisi desakan agar ia tidak ikut campur dalam urusan hukum yang sedang berjalan.

“Ibu Lisna menerima banyak ancaman baik berupa SMS, WA, dan sebagainya yang ujungnya itu ancaman berupa untuk tidak buka suara dan tidak ikut campur. Ibu Lisna memang sedikit mengalami depresi,” kata Sri Suparyati.

Tuntutan Untuk Menjamin Keamanan Saksi

Merespons laporan LPSK, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, meminta aparat penegak hukum untuk tidak berkompromi dengan pihak-pihak yang melakukan intimidasi. Ia menginstruksikan Kapolres Sukabumi untuk menjamin keamanan Lisnawati dan menyikat habis kelompok yang mencoba menghalangi keadilan.

“Sebelum ke Pak Kapolres ya, yang pertama saya minta dijamin keamanannya ibu ini, Pak. Hajar saja gangster-gangster itu. Enggak ada urusan,” tegas Habiburokhman.

Ia juga menekankan agar Polres Sukabumi bekerja cepat dalam menangani kasus ini tanpa terjebak pada urusan administratif yang memperlambat penindakan.

“Masa sudah sejauh ini belum ada penindakan, Pak. Lalu nanti jangan terlalu bertele-tele soal timeline ini,” tambahnya.

Tersangka Ibu Tiri Tetap Membantah

Di sisi lain, proses penyidikan terhadap TR, ibu tiri korban, masih berjalan meskipun tersangka tidak mengakui perbuatannya. Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menyebutkan bahwa TR membantah telah menganiaya Nizam hingga tewas dan menyebut kejadian tersebut sebagai takdir. Namun, polisi menegaskan bahwa mereka memiliki metode pembuktian lain yang tidak mengandalkan pengakuan tersangka semata. Pemeriksaan psikologi klinis telah dilakukan untuk memperkuat bukti-bukti di lapangan.

“Tersangka TR tidak memberikan pengakuan. Kita berupaya melakukan pembuktian yang betul-betul bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” jelas AKBP Samian.

Berdasarkan catatan kepolisian, TR diduga sudah melakukan kekerasan terhadap Nizam sejak November 2024. Pada kejadian tahun lalu itu, TR dikabarkan sempat mengakui tindakannya.

Kronologi Meninggalnya Nizam

Nizam Syafei meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026) di RSU Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi. Sebelum menghembuskan napas terakhir, korban sempat mengaku bahwa dirinya dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya tersebut. Tindakan ini disebut menjadi penyebab munculnya sejumlah luka bakar pada tubuh Nizam.

Berdasarkan catatan kepolisian, TR diduga sudah melakukan kekerasan terhadap korban sejak November 2024. Pada kejadian tahun lalu itu, TR sempat mengakui tindakannya. Kini, meskipun TR membantah tudingan penganiayaan maupun pembunuhan, polisi terus memperkuat bukti-bukti di lapangan.

Pos terkait