Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran dan Dampaknya bagi Rakyat
Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinilai sebagai pukulan berat bagi rakyat Iran. Ia tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026) waktu Iran. Peristiwa ini memicu reaksi dari berbagai kalangan di dalam maupun luar negeri.
Dosen Koordinator Iranian Corner Universitas Hasanuddin (Unhas), Supratman Supa Athana, mengatakan bahwa wafatnya Ayatollah Ali Khamenei memiliki dampak besar bagi masyarakat Iran. Sebagai peristiwa kemanusiaan, tentu rakyat Iran merasa sedih dan kehilangan tokoh yang dicintai. Namun, sebagai sebuah bangsa, Iran pastinya akan menghadapi ini sebagai tantangan untuk menjaga wibawa dan kedaulatan negara mereka.
Respon yang diberikan oleh Iran akan cukup bijak. Mereka tidak akan terjebak dalam suasana yang membuatnya menjadi lemah. Supratman menilai bahwa peristiwa ini seharusnya menjadi spirit dan kekuatan baru untuk menunjukkan bahwa Iran adalah sebuah bangsa yang memiliki regenerasi komunitas dan sosial yang baik.
Persiapan Pengganti dan Kepercayaan Rakyat
Menurut Supratman, Iran telah menyiapkan pengganti bagi Ayatollah Ali Khamenei. Rakyat Iran tetap mempertahankan bentuk negara mereka, yaitu negara Islam. Bahwa Amerika dan Israel telah menyerang mereka dan berhasil mensyahidkan pimpinannya, itu sama sekali tidak memberikan efek yang membuat mereka ketakutan, panik, atau kehilangan arah.
Rakyat Iran memberikan dukungan penuh kepada pengisi pemerintahan saat ini. Negara dengan penduduk sekitar 93 juta jiwa tetap solid di tengah situasi sulit yang dihadapi. Supratman menyebut dua faktor utama yang membuat rakyat Iran tetap bersatu dan kuat pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Pertama, ideologi Islam yang dianut. Mereka mempercayai bahwa hasil ijtihad dari Imam Khomeini dulu yang membentuk pemerintahan Islam Iran merupakan perpanjangan tangan atau perwujudan dari konsep kepemimpinan kenabian (nubuwwah). Republik Islam Iran yang disebut pemerintahannya sebagai pemerintahan Wilayatul Faqih atau pemerintahan kaum ulama, dipandang sebagai representasi falsafah kepemimpinan kenabian.
Kedua, Iran memiliki sejarah panjang sebagai sebuah bangsa yang besar. Sebagai salah satu peradaban kuno tertua, peradaban Iran unggul sejak dahulu kala. Orang-orangnya juga memiliki kapasitas dan kemampuan yang sangat mumpuni, sehingga banyak lahir pemikir-pemikir Islam dari bangsa-bangsa Persia.
Pemimpin Selanjutnya dan Profil yang Ideal
Kursi Pemimpin Tertinggi Iran saat ini kosong pasca meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei. Jabatan tersebut memegang kedudukan tertinggi dalam struktur politik dan agama Republik Rakyat Iran. Pemimpin Tertinggi sementara dijalankan oleh Presiden Iran, Ketua Pengadilan, dan anggota Dewan Wali Iran.
Ayatollah Ali Khamenei sendiri disebut telah menyiapkan empat figur sebagai penerusnya. Salah satu yang mencuat adalah putra dari Rahimahullah Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei. Nama Mojtaba beberapa kali disebut dalam berbagai spekulasi politik internal Iran sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan serta pemahaman mendalam terhadap sistem Wilayatul Faqih.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi terkait siapa yang akan ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. Supratman menyampaikan bahwa figur ideal untuk Iran saat ini tak jauh beda dengan profil Ayatollah Ali Khamenei. Sosok tersebut harus memiliki kapasitas sebagai ahli strategi, terutama dalam konteks militer.
Efek Berkepanjangan dan Dinamika Geopolitik
Supratman memperkirakan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei membawa dampak signifikan terhadap dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Apalagi, pernyataan-pernyataan keras yang sempat disampaikan Ayatollah Ali Khamenei semasa hidupnya dinilai masih akan memengaruhi arah kebijakan Iran ke depan.
Sebelum wafat, Ayatollah Ali Khamenei pernah menegaskan bahwa pihak lawan mungkin memulai perang, tetapi Iran yang akan menentukan akhir dari peperangan tersebut. Pernyataan itu kini kembali disorot sebagai bagian dari doktrin strategis Iran dalam menghadapi tekanan eksternal.
Perjuangan Iran bukan sekadar perjuangan atas nama bangsa dan negaranya sendiri. Melainkan, perjuangan etik global yang menjadi panutan seluruh bangsa dan negara di muka bumi. Iran sebenarnya sangat patuh terhadap norma atau hukum internasional. Ia menganggap kemenangan bukan semata menang militer dan sebagainya, tetapi ada pesan etik dan moral yang ingin disampaikan.





