Bacaan-Bacaan Liturgi untuk Pesta Santo Felix III (II) dan Hari Minggu Prapaskah II
Hari Minggu Prapaskah II hadir dengan warna liturgi ungu yang menggambarkan kesedihan, penyesalan, dan persiapan spiritual. Bacaan-bacaan liturgi yang disiapkan untuk hari ini tidak hanya membawa pesan-pesan penting dari Kitab Suci tetapi juga memberikan panduan rohani bagi umat Kristiani dalam mempersiapkan diri menyambut Paskah.
Bacaan Pertama: Kejadian 12:1-4a
Pada bacaan pertama, kita menemukan kisah perjalanan Abram, yang kemudian dikenal sebagai Abraham. Allah berfirman kepada Abram, memerintahkannya untuk meninggalkan negerinya dan keluarganya serta pergi ke tanah yang akan ditunjukkan-Nya. Dalam firman itu, Allah berjanji akan membuat Abram menjadi bangsa besar, memberkati dia, dan menjadikannya sebagai berkat bagi semua bangsa di muka bumi. Abram pun patuh dan pergi bersama dengan Lot, pada usia 75 tahun.
Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-5, 18-19, 20, 22
Mazmur ini mengingatkan kita bahwa Firman Tuhan adalah benar dan segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Tuhan senang kepada keadilan dan hukum, serta kasih setia-Nya terhadap mereka yang takut akan Dia. Ia juga akan melepaskan jiwa mereka dari kematian dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, yang merupakan penolong dan perisai kita. Kita berharap kasih setia-Nya menyertai kita.
Bacaan Kedua: 2Tim 1:8b-10
Dalam bacaan kedua, Paulus menasihati Timotius agar tidak malu bersaksi tentang Tuhan dan tidak takut karena ia menderita bagi Injil. Allah telah menyelamatkan kita dengan panggilan kudus, bukan karena perbuatan kita, melainkan karena maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Kasih karunia ini telah diberikan melalui Yesus Kristus, yang telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Injil Katolik: Matius 17:1-9
Injil ini menceritakan pengalaman Yesus bersama Petrus, Yakobus, dan Yohanes saat mereka naik ke gunung tinggi. Di sana, Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya putih bersinar. Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan-Nya. Petrus ingin membangun tiga kemah, tetapi tiba-tiba awan terang menaungi mereka. Suara dari langit berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Murid-murid pun ketakutan dan tersungkur. Yesus menyentuh mereka dan berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Ketika mereka mengangkat kepala, hanya Yesus yang terlihat. Yesus lalu memperingatkan mereka untuk tidak menceritakan penglihatan itu sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.
Bacaan Khusus (BCO): Keluaran 13:17-14:9
Bacaan ini menggambarkan perjalanan bangsa Israel setelah mereka dilepaskan dari Mesir. Allah tidak menuntun mereka melalui jalan yang dekat, tetapi melalui padang gurun menuju Laut Teberau. Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sesuai dengan sumpah yang diberikan oleh Yusuf. Tuhan berjalan di depan mereka, dalam tiang awan siang hari dan tiang api malam hari. Firaun akhirnya mengejar mereka, tetapi Allah menyatakan kemuliaan-Nya dan memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada orang Mesir.
Santo Felix III (II), Paus
Santo Felix III (II) lahir dari keluarga Romawi dan menjadi Paus pada tahun 483, menggantikan Paus Santo Simplisius. Nama “Felix III (II)” diberikan karena ada seorang Paus tandingan bernama Felix II pada abad ke-4. Selama masa pemerintahannya, Felix menghadapi bidaah Monophysitisme yang menolak ajaran tentang kedwitunggalan kodrat Yesus. Untuk mengatasi masalah ini, Kaisar Zeno mengeluarkan Henotikon, sebuah rumusan yang tidak disetujui oleh Paus maupun pengikut bidaah tersebut.
Felix III memanggil Patriakh Konstantinopel, Acacius, penyusun rumusan itu. Namun, Acacius menolak datang ke Roma, sehingga diekskomunikasikan. Skisma Acacian mulai berkembang dan berlanjut hingga kematian Felix III pada 1 Maret 492.





