Bandara Uyang Lahai Kutim Belum Dijangkau, Pesawat Tak Bisa Mendarat Saat Hujan

Hujan Deras Pesawat Tak Bisa Mendarat Di Balikpapan I8prrycfyx
Hujan Deras Pesawat Tak Bisa Mendarat Di Balikpapan I8prrycfyx

Bandara Uyang Lahai, Masih Jauh dari Ideal

Bandara Perintis Uyang Lahai di Kabupaten Kutai Timur kembali menjadi perhatian masyarakat. Meskipun telah diresmikan sejak 19 September 2013, kondisi fasilitas transportasi udara ini masih jauh dari ideal. Landasan pacu yang hanya sepanjang 820 meter belum dilapisi aspal maupun beton, sehingga membuat operasional penerbangan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Saat hujan turun atau langit mendung, aktivitas penerbangan harus dihentikan demi menjaga keselamatan penumpang dan pesawat. Situasi ini berdampak langsung pada aksesibilitas masyarakat di tiga kecamatan pedalaman, yaitu Kongbeng, Muara Wahau, dan Telen. Bandara ini seharusnya menjadi solusi transportasi cepat menuju wilayah perkotaan, namun saat ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh perusahaan-perusahaan sekitar maupun masyarakat setempat.

Sejarah dan Ironi Pembangunan

Secara historis, lapangan terbang ini sudah ada sejak 1976 sebelum diresmikan secara formal pada 2013. Nama “Uyang Lahai” diambil sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh adat atau pahlawan lokal masyarakat Dayak di wilayah tersebut. Ironisnya, dari total lahan yang tersedia sepanjang 2.300 meter, hanya sekitar 820 meter yang berhasil dibangun.

Panjang landasan yang terbatas serta kondisi permukaan tanah memaksa maskapai menurunkan kapasitas angkut penumpang demi menjaga keselamatan saat lepas landas. Dulu, bandara ini disebut mampu melayani pesawat berkapasitas 18 penumpang. Namun kini, akibat kondisi landasan yang belum memadai, hanya pesawat kecil berkapasitas delapan hingga sembilan penumpang yang berani beroperasi.

Hambatan Administratif dan Proses Pengurusan

Selain persoalan fisik, hambatan administratif turut memengaruhi operasional bandara. Pengelola tengah mengurus Register Bandar Udara (RBU) agar dapat terintegrasi dalam sistem navigasi udara nasional di bawah Kementerian Perhubungan. Proses tersebut menjadi syarat penting agar bandara dapat beroperasi optimal dan mendapat dukungan teknis maupun regulasi dari pemerintah pusat.

Pemerintah kecamatan juga telah mengirimkan surat permohonan dukungan pembangunan dari tingkat desa hingga pusat. Koordinasi lintas sektoral dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan kementerian terkait. Camat Kongbeng, Petrus Ivung, menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan komunikasi dengan pihak kementerian dan koordinasi dengan pihak Kabupaten Kutim.

Harapan Masa Depan

Petrus Ivung menegaskan bahwa pihaknya akan terus bekerja sama untuk memastikan pengembangan bandara ini dapat berjalan dengan baik. Ia berharap bahwa dengan landasan yang lebih baik, tidak ada kendala lagi dalam operasional penerbangan, bahkan saat cuaca buruk seperti gerimis.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, masyarakat dan pemerintah setempat tetap berharap bahwa Bandara Uyang Lahai dapat segera memenuhi standar dan menjadi sarana transportasi yang efektif bagi wilayah pedalaman. Dengan dukungan dari berbagai pihak, harapan besar diarahkan agar bandara ini dapat meningkatkan aksesibilitas dan mempercepat perkembangan ekonomi di daerah tersebut.

Pos terkait