Inisiatif Desa Makarti Jaya dalam Pengelolaan Sampah
Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang masih membayangi Kabupaten Morowali, secercah harapan lahir dari Desa Makarti Jaya. Ketika puluhan ribu ton sampah belum terkelola secara optimal dalam dua tahun terakhir, sebuah gerakan berbasis masyarakat membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari tingkat desa.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup, pada tahun 2023 tercatat sekitar 56.039 ton sampah belum terkelola dari total timbulan 64.330 ton. Sementara pada 2024, dari total timbulan 62.214 ton, hanya sekitar 9.155 ton yang terkelola. Angka ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi isu strategis daerah yang membutuhkan kolaborasi multipihak.
Menjawab tantangan tersebut, Nickel Industries melalui anak perusahaannya Hengjaya Mineralindo bersama Pemerintah Desa Makarti Jaya menginisiasi program pengelolaan sampah berbasis masyarakat bertajuk Makarti Jaya Lestari Olah Sampah (MALEO). Program ini mendorong pembentukan lima Bank Sampah Unit di tingkat dusun dan satu Bank Sampah Induk di tingkat desa sebagai sistem tata kelola sampah yang terstruktur dan berkelanjutan.
Tak hanya membentuk kelembagaan, program MALEO juga memperkuat kapasitas pengurus melalui pelatihan administrasi bank sampah, sistem pencatatan dan pengelolaan tabungan sampah, pelatihan daur ulang untuk menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi, edukasi pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, serta penyediaan infrastruktur pendukung operasional.
Hasilnya signifikan. Jika pada 2024 sampah di Desa Makarti Jaya belum terkelola secara efektif, maka pada 2025 desa ini berhasil mengelola 5,874 ton sampah melalui operasional harian bank sampah. Muladin, Pengurus Bank Sampah Induk Desa Makarti Jaya, menyampaikan bahwa partisipasi masyarakat menunjukkan tren positif.
“Melalui program ini, kami belajar memilah sampah sesuai jenisnya, melakukan pencatatan administrasi dan tabungan sampah secara tertib, serta memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi. Kesadaran ini juga berdampak pada kesehatan dan kelestarian lingkungan, sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” ujarnya, dikutip Senin (2/3).
Sepanjang 2025, sebanyak 70 Kepala Keluarga telah terdaftar sebagai nasabah bank sampah yang tersebar di lima dusun. Jenis sampah terpilah yang dikelola meliputi plastik, logam, kertas, dan kaca. Dari total 5,874 ton sampah yang terkelola, ditemukan bahwa 92 persen merupakan sampah plastik, 7 persen sampah logam, dan 1 persen sampah kertas.
Total penjualan sampah terkelola dari aktivitas harian bank sampah sepanjang 2025 mencapai Rp 15,6 juta, menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya menjadi beban kini bertransformasi menjadi sumber nilai ekonomi. Ni Luh Gede Puspa, Pengurus Bank Sampah Unit Melati Dusun 1, menambahkan bahwa program ini turut meningkatkan keterampilan masyarakat.
“Kami dibekali pelatihan daur ulang sampah plastik sehingga dapat menghasilkan produk turunan bernilai jual, seperti suvenir gantungan kunci dari botol plastik. Dengan cara ini, nilai ekonomi sampah meningkat dan membuka peluang pendapatan tambahan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya karena Desa Makarti Jaya mulai dikenal sebagai contoh desa yang mengelola sampah secara mandiri melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan BUMDes.
Sejalan dengan komitmen tersebut, Hengjaya Mineralindo & Nickel Industries Limited menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan lingkungan yang layak huni bagi masyarakat sekitar wilayah operasional. Perusahaan menekankan bahwa pemulihan dan perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan dengan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Manfaat dan Tantangan dalam Pengelolaan Sampah
Program MALEO tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Masyarakat Desa Makarti Jaya kini lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri. Hal ini juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah, yang sebelumnya jarang dilakukan.
Namun, meskipun ada kemajuan yang signifikan, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah konsistensi partisipasi masyarakat dalam jangka panjang. Selain itu, diperlukan dukungan infrastruktur dan sumber daya yang lebih besar agar program ini bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dalam konteks yang lebih luas, inisiatif Desa Makarti Jaya menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat bisa menjadi solusi efektif dalam menghadapi masalah lingkungan. Dengan pendekatan yang tepat, sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi menjadi sumber nilai ekonomi yang bermanfaat bagi semua pihak.





