Barongsai Hiasi Suasana Ngabuburit di Masjid Raya Solo

Aa1xkpig
Aa1xkpig



Di tengah suasana yang penuh kehangatan selama bulan Ramadan, Masjid Raya Syekh Zayed Solo, Jawa Tengah, menjadi tempat yang khusus untuk merayakan perbedaan dan keragaman. Pada hari Ahad, 1 Maret 2026, suara dentuman tambur dan gemerincing simbal memecah kesunyian di area masjid tersebut. Atraksi barongsai hijau dan liong yang lincah langsung menarik perhatian ratusan jamaah yang sedang ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa.

Pertunjukan yang dibawakan oleh kelompok kesenian barongsai Tri Pusaka, yang diasuh oleh WS Adjie Chandra, berlangsung sekitar satu jam. Atraksi ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi yang diselenggarakan oleh pengelola masjid. Adjie Chandra mengatakan bahwa ia bangga bisa kembali tampil untuk ketiga kalinya di masjid tersebut. Ia menilai bahwa tampilnya barongsai di ruang publik keagamaan mencerminkan keterbukaan dan toleransi yang semakin kuat.

Menurut Adjie, perdebatan mengenai apakah barongsai merupakan kesenian etnis atau agama tertentu sudah tidak relevan lagi. Hal ini karena para pemain barongsai berasal dari latar belakang yang beragam. Dari sekitar 80 personel yang terlibat dalam pertunjukan tersebut, sebagian besar adalah warga Jawa, dan hanya satu atau dua orang yang beragama Khonghucu. Sisanya berasal dari latar belakang Kristen, Katolik, maupun Islam. Bahkan, saat Ramadan, para pemain yang Muslim juga ikut berpuasa sebelum tampil.

“Barongsai sekarang tidak perlu lagi diperdebatkan. Ini kesenian dan olahraga yang indah, yang merekatkan perbedaan,” ujar Adjie Chandra saat ditemui di tengah suasana ngabuburit.

Antusiasme serupa dirasakan oleh Fendi, warga Klaten yang datang khusus untuk ngabuburit di Masjid Raya Syekh Zayed Solo. Baginya, pertunjukan barongsai dan liong di masjid tersebut menjadi simbol keberagaman yang tetap satu. Ia menilai bahwa atraksi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga pesan kuat tentang toleransi.

“Seru sekali, semoga tahun depan bisa digelar lagi untuk menghibur jamaah yang menunggu waktu berbuka,” kata Fendi.

Misi Keberagaman Budaya

Direktur Operasional Masjid Raya Syekh Zayed Solo, Munajat, menyampaikan bahwa keberagaman budaya memang menjadi bagian dari misi besar pengelolaan masjid. Menurutnya, berbagai kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat akan difasilitasi selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Munajat menjelaskan bahwa agama dan budaya merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan sosial. Salah satu visi misi masjid adalah membangun cross culture communication atau komunikasi lintas budaya. Melalui pentas seni, masyarakat diajak menyadari kekayaan tradisi yang dimiliki, mulai dari macapat, hadrah, laras madyo, gadonan, hingga klenengan.

“Selama itu budaya yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam, silakan datang ke masjid, kami fasilitasi dan kita tampilkan,” kata Munajat.

Agenda Kegiatan yang Beragam

Tidak hanya pertunjukan barongsai, Masjid Raya Syekh Zayed Solo juga menghadirkan beragam program dan kegiatan unik selama Ramadan 2026. Mulai dari agenda seni, edukasi, hingga lomba sepanjang bulan puasa.

Sejak awal Ramadan, pengelola masjid telah menggelar kegiatan dan lomba seni seperti hadrah akustik religi yang menampilkan Yoyok ’n Friends, macapat dari Langenpraja Mangkunegaran, serta Macapat Idol. Ada juga gadon karawitan, kelas public relations, silat, tari sufi dari UIN Surakarta, tari saman, talkshow, Investment Class, kelas menulis aksara Jawa, ajang ta’aruf Golek Garwa, lomba kaligrafi, lomba mendesain keranda jenazah, hingga lomba mengkafani jenazah.

Rangkaian agenda kegiatan ini akan berlangsung hingga 19 Maret 2026.

Pos terkait