Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang menyelesaikan beberapa aturan terkait keterbukaan kepemilikan saham yang melebihi 1% dan penyediaan data investor dengan tingkat detail yang lebih tinggi. Kebijakan ini menjadi bagian dari pembaruan proposal yang diajukan oleh organisasi pengatur mandiri (SRO) kepada penyedia indeks global seperti MSCI Inc. dan FTSE Russell.
Pelaksana tugas (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa selain dua poin tersebut, proses penyusunan aturan pencatatan saham terkait peningkatan batas minimum free float telah selesai pada tahap rule making per tanggal 19 Februari lalu.
“Proses rule making saat ini sudah selesai, dan sekarang masuk ke tahap berikutnya di internal bursa. Nantinya akan kami ajukan ke OJK, sehingga keseluruhan proses masih sesuai jadwal,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di gedung BEI Jakarta, Jumat (20/2).
Jeffrey menambahkan bahwa BEI sedang memfinalisasi metodologi dan standar operasional prosedur (SOP) untuk penyusunan shareholders concentration list atau daftar saham dengan kepemilikan yang terindikasi terkonsentrasi.
Denda Influenser BVN Rp 5,35 Miliar, OJK Sebut Masih Ada 32 Kasus Pelanggaran
BEI Akan Evaluasi Perdagangan Full Call Auction FCA pada Kuartal II
267 Emiten Belum Capai Free Float 15%, OJK Akan Beri Notasi Khusus
Menurut Jeffrey, daftar tersebut akan disusun oleh komite yang melibatkan lintas-divisi di BEI serta lintas-SRO atau Self Regulatory Organization guna memastikan prosesnya dilakukan secara akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ide penerbitan shareholders concentration list pertama kali disampaikan oleh Jeffrey setelah pertemuan lanjutan dengan MSCI Inc. yang digelar pada Rabu (11/2). Jeffrey mengatakan bahwa kebijakan serupa telah diterapkan di Bursa Hong Kong.
Menurut dia, penerbitan daftar tersebut menjadi bagian dari upaya BEI untuk memperkuat keterbukaan informasi di pasar modal domestik. “Dengan implementasi ini, transparansi dan integritas pasar kita akan meningkat ke depannya,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (11/2).
Jeffrey menjelaskan bahwa gagasan penerbitan shareholders concentration list muncul setelah SRO mencermati masukan dari MSCI sejak Oktober lalu. Sejak saat itu, SRO melakukan sejumlah studi dan kajian terhadap pengalaman bursa lain yang pernah menghadapi kondisi serupa.
“Jika ditanya angka 1% itu merujuk ke mana? Ke India. Kemudian shareholders concentration list itu di Hong Kong. Kira-kira itu background-nya,” ujar Jeffrey.





