Perjalanan Seorang Tokoh Hak Asasi Manusia
Jesse Jackson, seorang tokoh pejuang hak-hak sipil dan pendeta Amerika Serikat, meninggal di usia 84 tahun pada Selasa pagi, 17 Februari 2026. Selama lebih dari lima dasawarsa, Jackson dikenal sebagai agen perubahan dan memegang komitmen kuat melayani mereka yang tertindas, tak bersuara, dan diabaikan di seluruh dunia.
Berita duka tersebut diumumkan oleh keluarga Jackson melalui sebuah pernyataan. “Dengan kesedihan mendalam kami mengumumkan meninggalnya tokoh hak-hak sipil dan pendiri Koalisi Rainbow PUSH, Yang Terhormat Pendeta Jesse Louis Jackson, Sr. Beliau meninggal dengan tenang pada Selasa pagi, dikelilingi oleh keluarganya. Komitmennya yang teguh terhadap keadilan, kesetaraan, dan hak asasi manusia membantu membentuk gerakan global untuk kebebasan dan martabat,” tulis pernyataan tersebut.
November tahun lalu, Jackson sempat dirawat di rumah sakit dan didiagnosis menderita kondisi degeneratif langka yang disebut Progressive Supranuclear Palsy (PSP) pada April 2025. Hal tersebut sekaligus merevisi diagnosis sebelumnya, yang menurut pengakuan Jackson pada 2015, yakni penyakit parkinson. Kendati demikian, belum ada pernyataan resmi yang mengkonfirmasi penyebab kematian Jackson.
Selebriti Berduka
Selain sebagai aktivis, Jesse Jackson juga dikenal sebagai seorang aktor dan produser. Sejumlah film yang pernah dibintanginya adalah The Burning, SOS – Saving Our Schools (2015), dan Happily Ever After: Fairy Tales for Every Child (1995). Kepergiannya menyisakan duka di kalangan selebriti. Oprah Winfrey mengenang sosok Jesse Jackson melalui sebuah unggahan di Facebook. Ketika masih duduk di bangku SMA, ia menghadiri sebuah pertemuan untuk mendengarkan Jackson berbicara. “Pidatonya sangat mempengaruhi saya ketika dia berkata: ‘Keunggulan adalah pencegah terbaik terhadap rasisme’. Ketika saya menjadi reporter muda, dia adalah tokoh ‘nasional’ pertama yang saya wawancarai. Dia menginspirasi harapan yang akan terus hidup saat dia beristirahat dalam damai.”
Artis R&B pemenang Grammy, John Legend, juga mengenang kembali ketika masih berusia 9 tahun menyaksikan pidato Jesse Jackson di Konvensi Nasional Partai Demokrat pada 1988. “Sungguh menakjubkan melihat seorang politisi mampu menerangi ruangan seperti yang dilakukannya. Sungguh menguatkan melihat seorang pria kulit hitam—dengan irama bicara para pendeta kulit hitam yang saya tonton saat kecil—berbicara dan memberikan harapan kepada kerumunan delegasi yang multiras ini.”
Sutradara film Tyler Perry meneruskan perjuangan Jackson selama bertahun-tahun, setelah membangun studio produksinya sendiri di Atlanta. “Sebuah kehidupan yang menginspirasi dan suara yang akan bergema selamanya. Saya hanya bisa membayangkan reuni Hak Sipil di alam sana! Semoga Tuhan mengantarmu ke tempat peristirahatan yang tenang, sahabatku.”
Politisi AS Beri Penghormatan untuk Jesse Jackson
Ungkapan belasungkawa dari para politikus juga mengalir deras menyertai kepergian Jackson. Mereka memberikan penghormatan kepada aktivis yang sempat dua kali mencalonkan diri sebagai kandidat presiden tersebut. Joe Biden misalnya yang mengenang Jackson sebagai sosok yang teguh dan gigih serta tak takut untuk bekerja demi menyelamatkan jiwa bangsa. “Saya telah melihat bagaimana Pendeta Jackson telah membantu memimpin bangsa kita maju melewati masa-masa sulit dan kemenangan,” tulis Biden di X.
Barack Obama menyebut Jackson sebagai sosok “raksasa sejati” dalam sebuah pernyataan di akun Instagram pribadinya. “Selama lebih dari 60 tahun, Pendeta Jackson membantu memimpin beberapa gerakan perubahan paling signifikan dalam sejarah umat manusia. Mulai dari mengorganisir boikot dan aksi duduk, mendaftarkan jutaan pemilih, hingga memperjuangkan kebebasan dan demokrasi di seluruh dunia.”
Presiden Donald Trump pula melalui Truth Social mengaku telah mengenal Jackson sedari lama dan menganggapnya sebagai pria dengan banyak kepribadian, keteguhan, dan “kecerdasan jalanan”. Namun The Guardian menilai bahwa pernyataan Trump tersebut, lagi-lagi, dengan cepat berubah menjadi politis dan ajang pamer terkait dirinya sendiri.
Rekam Jejak Politik dan Aktivisme Jesse Jackson
Jesse Jackson lahir pada 8 Oktober 1941 di Greenville, Carolina Utara dan telah terlibat dalam dunia politik sejak usia muda. BBC mencatat bahwa nama Jackson mulai dikenal pada dekade 1960-an ketika ia memimpin Southern Christian Leadership Conference (SCLC) bentukan Martin Luther King Jr. Jackson pun menjadi orang yang berada bersama King ketika pendeta tersebut dibunuh di Memphis, Tennessee pada 1968.
Setelah meninggalkan SCLC pada 1971, Jackson lantas mendirikan organisasi Operation PUSH yang mewadahi perjuangan masyarakat kulit hitam, pengembangan pemuda, dan kesempatan ekonomi. Menurut laporan USA Today, organisasi besutan Jackson ini kerap menggunakan pendekatan persuasif, boikot, dan aksi doa bersama. Gerakan tersebut pun berhasil mendapatkan konsesi dari perusahaan dan bisnis milik orang kulit putih untuk mempekerjakan tenaga kerja yang lebih beragam.
Pada 1984, Jackson membentuk National Rainbow Coalition, sebuah organisasi yang mempromosikan hak-hak kesetaraan bagi warga kulit hitam Amerika, perempuan, dan komunitas LGBTQ+. Organisasi ini kemudian bergabung dengan Operation PUSH dan mengubah nama menjadi Rainbow/PUSH Coalition. Kelompok-kelompok dari organisasi bentukan Jackson tersebut pun mendapatkan penerimaan arus utama serta membantu lebih banyak isu, seperti perawatan kesehatan nasional hingga negosiasi perdamaian antara Israel dan Palestina.
Dalam sepak terjang perpolitikan, seperti disinggung di awal, Jackson sempat dua kali mencalonkan dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat pada periode 1984 dan 1988. Ia juga pernah beberapa kali membantu dalam penyelesaian perselisihan global dengan perhatiannya terhadap isu apartheid di Afrika Selatan dan memperjuangkan negara Palestina.
Pada 1997, Presiden Bill Clinton menunjuk Jackson sebagai utusan khusus untuk Afrika. Momen tersebut nantinya turut mempertemukannya dengan salah satu pemimpin kharismatik dan revolusioner antiapartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela.





