Beras Impor 1.000 Ton dari AS, Cocok untuk Penderita Diabetes

Id 11134207 7r98p Lyf1jsvve8zsa6
Id 11134207 7r98p Lyf1jsvve8zsa6

Impor Beras Khusus dari Amerika Serikat, Tidak Mengganggu Pasar Nasional

Pemerintah Indonesia mengimpor 1.000 ton beras khusus dari Amerika Serikat (AS) yang tidak ditujukan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat umum. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (2/3). Menurutnya, beras tersebut memiliki jenis dan spesifikasi khusus yang berbeda dari beras biasa yang dikonsumsi masyarakat.

“Beras tersebut bukan untuk kebutuhan harian masyarakat. Tujuannya adalah sebagai kebutuhan khusus, seperti untuk penderita diabetes atau restoran Jepang yang membutuhkan beras dengan karakteristik tertentu,” ujar Zulkifli.

Jenis Beras yang Tidak Biasa

Beras impor dari AS ini memiliki sifat dan rasa yang berbeda dari beras lokal. Menurut Zulkifli, beras khusus ini lebih cocok dikonsumsi oleh kelompok tertentu, seperti penderita diabetes atau penggemar masakan khas Jepang. Ia mencontohkan, beras Jepang juga memiliki karakteristik khusus yang tidak tersedia di pasar lokal.

“Seperti beras Jepang, ada beras khusus yang disebut ‘beras gula’ untuk orang-orang yang menderita diabetes. Bukan beras yang digunakan sehari-hari,” tambahnya.

Kerjasama Dagang dengan Amerika Serikat

Impor beras khusus ini merupakan bagian dari kerja sama dagang antara Indonesia dan AS melalui skema Agreement of Reciprocal Trade (ART). Dalam kerja sama ini, pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator, sedangkan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya dilakukan oleh sektor swasta.

“Transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta,” kata Haryo Limanseto, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Pengaruh Terhadap Pasar Nasional

Zulkifli menyatakan bahwa impor beras khusus ini tidak akan mengganggu pasokan beras nasional. Ia menegaskan bahwa beras impor ini tidak ditujukan untuk menggantikan beras lokal yang menjadi konsumsi mayoritas masyarakat.

“Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton tahun 2025,” ujarnya.

Selain beras khusus, impor produk pertanian dari AS juga mencakup 580.000 ekor ayam hidup jenis grand parent stock (GPS) senilai sekitar 17 juta hingga 20 juta dollar AS, serta 120.000–150.000 ton daging ayam untuk bahan baku industri olahan.

Alasan Harga Mahal

Menurut Zulkifli, salah satu alasan impor beras khusus ini adalah karena harga beras tersebut relatif tinggi. Harganya mencapai Rp 100 ribu per kilogram, sehingga hanya diminati oleh kalangan tertentu seperti restoran Jepang.

“Siapa yang mau beli? Yang beli kan yang makan di restoran Jepang aja,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa kebijakan impor ini bukan karena produksi beras nasional tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, pasar beras khusus sangat terbatas dan harganya tinggi.

Strategi Perdagangan yang Seimbang

Haryo Limanseto menilai pendekatan perdagangan yang seimbang diperlukan untuk melindungi daya saing produk nasional. Dengan adanya kerja sama dagang, Indonesia dapat menjaga akses pasar Amerika Serikat, yang menjadi penyumbang surplus ekspor terbesar bagi Indonesia.

“Nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 31 miliar dollar AS atau sekitar Rp 520,4 triliun pada 2025,” tambahnya.

Prioritas Peternak Lokal

Pemerintah juga memastikan bahwa kebijakan impor ini tetap memprioritaskan peternak dalam negeri. Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik.

“Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik,” tegas Haryo.

Dengan demikian, impor beras khusus dari AS tidak akan mengganggu pasar nasional dan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar khusus dan perlindungan industri lokal.

Pos terkait