Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Dikabarkan Tewas dalam Serangan Udara
Sebuah laporan yang mengejutkan mengungkap bahwa Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikabarkan tewas dalam serangan udara pada hari Sabtu. Peristiwa ini menandai akhir dari lebih dari tiga dekade kepemimpinan ayatollah tersebut di negara tersebut.
Serangan terjadi pagi hari waktu setempat dan menjadi bagian dari operasi gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kompleks kediaman Khamenei di Teheran hancur akibat serangan tersebut. Ia juga menyebut ada indikasi kuat bahwa ayatollah berusia 86 tahun itu telah tiada.
Serangan Menyebar ke Berbagai Wilayah Iran
Laporan menunjukkan bahwa situs-situs di seluruh Iran terkena dampak serangan, termasuk lokasi di Teheran, Karaj, Tabriz, Kermanshah, Khorramabad, Bushehr, Qom, Isfahan, Chabahar, dan Konarak. Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan apa yang tampak seperti lebih dari 21 rudal jelajah Tomahawk melintasi wilayah udara Iran. Video tambahan menampilkan drone Reaper yang beroperasi di atas Shiraz, Provinsi Fars, yang dilaporkan mendahului lebih dari 20 ledakan.
Klip lain menunjukkan serangan di Tabriz dekat Universitas Teknologi Sahand. Semua peristiwa ini memberikan gambaran tentang skala serangan yang dilakukan oleh pasukan AS dan Israel.
Bukti dari Citra Satelit
Menurut citra satelit dari Airbus Defence and Space yang diperoleh New York Times, kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran hancur total akibat serangan Angkatan Udara Israel pagi ini. Hal ini memperkuat klaim bahwa serangan tersebut sangat efektif dan merusak struktur utama tempat tinggal sang pemimpin.
Profil Singkat Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei memiliki nama lengkap Ali Hosseini Khamenei. Ia lahir pada 19 April 1939, sehingga saat ini berusia 86 tahun. Sebagai seorang ulama dan politikus, ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Hal ini membuatnya menjadi kepala negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah dan pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama kedua pada abad ke-20 dan ke-21, setelah Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Latar Belakang Keluarga
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak dari pasangan Javad dan Khadijeh Mirdamadi. Ayahnya adalah seorang Alim dan Mujtahid. Ayahnya berasal dari etnis Azerbaijan dari Khamaneh, sementara ibunya adalah seorang etnis Persia dari Yazd. Sang ibu merupakan putri Hashem Mirdamadi.
Leluhur Khamenei adalah Sayyid Hossein Tafreshi, keturunan Sayyid Aftasi yang diperkirakan sampai ke Sultan ul-Ulama Ahmad, yang dikenal sebagai Sultan Sayyid, cucu dari Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad.
Kehidupan Pribadi dan Pendidikan
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ia mulai pendidikan di usia empat tahun, belajar Al-Quran di Maktab. Kemudian, ia menghabiskan tingkat dasar dan lanjutan studi seminari di hawza Mashhad, di bawah mentor seperti Sheikh Hashem Qazvini dan Ayatollah Milani.
Pada tahun 1957, ia pergi ke Najaf, namun kembali ke Mashhad karena ayahnya tidak mengizinkannya tinggal di sana. Di tahun 1958, ia menetap di Qom, tempat ia menghadiri kelas-kelas Seyyed Hossein Borujerdi dan Ruhollah Khomeini.
Keterlibatan dalam Politik
Meskipun memiliki latar belakang agama yang kuat, Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan jauh lebih terlibat dengan politik ketimbang beasiswa agama. Hal ini menjadikannya tokoh penting dalam pemerintahan Iran selama bertahun-tahun.





