BI berkomitmen jaga harga pangan stabil saat Ramadan dan Lebaran 2026

Aa1htadb 1
Aa1htadb 1

Komitmen Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Harga Pangan

Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmennya yang kuat dalam menjaga stabilitas harga pangan yang cenderung fluktuatif, terutama menjelang momen Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) pada tahun 2026. Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) BI, Firman Mochtar, menyampaikan bahwa periode Ramadhan hingga Idul Fitri biasanya diiringi dengan peningkatan permintaan terhadap bahan makanan.

Lonjakan permintaan ini sering kali memicu kenaikan harga komoditas pangan. Namun, Firman mengatakan bahwa saat ini perkembangan inflasi kelompok volatile food masih menunjukkan tren penurunan. Hal ini menjadi indikasi positif bagi kebijakan yang diambil oleh BI dalam menjaga stabilitas harga.

“Secara umum, perkembangan inflasi volatile food atau harga bergejolak berada dalam tren menurun. Upaya menjaga harga pangan ini sangat penting,” ujar Firman dalam acara Share & Learn bersama Bank Indonesia di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi volatile food pada bulan Februari mencatatkan angka sebesar 2,5% secara bulanan dan 4,64% secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), yaitu menjaga inflasi volatile food tetap di bawah 5%.

“Angka ini masih berada dalam rentang yang kami sampaikan di Tim Pengendalian Inflasi Pusat, di mana inflasi volatile food dijaga berada di bawah 5%,” katanya.

Firman menjelaskan bahwa pengendalian inflasi pangan tidak hanya penting untuk menjaga stabilitas harga, tetapi juga untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Banyak produk makanan memiliki komponen input yang berasal dari komoditas volatile food.

“Ini menjadi penting karena inflasi volatile food juga bisa berpengaruh terhadap inflasi inti,” jelasnya.

Dengan perkembangan tersebut, BI menilai inflasi secara umum masih terkendali, termasuk inflasi pada kelompok pangan bergejolak. Namun, Firman menegaskan bahwa pengendalian harga pangan tetap menjadi perhatian utama, terutama menjelang periode Ramadhan dan Idul Fitri ketika permintaan masyarakat meningkat.

“Secara umum inflasi inti terkendali, inflasi volatile food juga masih dalam kisaran yang ingin kita capai. Menjadi perhatian adalah memang bagaimana kita mengendalikan harga pangan ini,” ujarnya.

Strategi dan Tindakan yang Dilakukan BI

Untuk mencapai tujuan tersebut, BI telah melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah koordinasi dengan berbagai pihak terkait seperti pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga statistik. Dengan kerja sama yang baik, BI berharap dapat memastikan pasokan pangan cukup dan stabil selama masa-masa penting ini.

Selain itu, BI juga aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga inflasi. Melalui berbagai program dan inisiatif, BI berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak inflasi terhadap ekonomi nasional.

Pentingnya Stabilitas Harga Pangan

Stabilitas harga pangan tidak hanya berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Jika harga pangan tetap stabil, maka masyarakat akan lebih mudah mengatur pengeluaran mereka, sehingga meningkatkan daya beli dan konsumsi.

Selain itu, stabilitas harga pangan juga menjadi salah satu indikator kesejahteraan masyarakat. Dengan harga yang terkendali, masyarakat dapat merasa aman dan nyaman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama selama momen-momen penting seperti Ramadhan dan HKBN.

Kesimpulan

Dengan komitmen yang kuat dan strategi yang tepat, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan, khususnya pada kelompok volatile food. Diharapkan, upaya ini dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di masa depan.

Pos terkait