BI jaga rupiah sesuai fundamental di tengah ketegangan Timur Tengah

Aa1jtcyb
Aa1jtcyb

Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Ketegangan di Timur Tengah

Dalam situasi ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini dilakukan dengan memastikan bahwa pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa BI akan terus memantau pergerakan pasar secara cermat dan merespons dengan tepat. Dengan adanya eskalasi konflik pasca-serangan AS ke Iran, sentimen “risk off” di pasar keuangan global menjadi semakin kencang. Namun, BI tetap berkomitmen untuk memastikan nilai tukar rupiah tetap stabil.

“BI akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” ujar Erwin dalam pernyataannya.

BI juga berkomitmen untuk mengoptimalkan kebijakan suku bunga agar lebih efektif dalam transmisi kebijakan moneter. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada stabilitas ekonomi nasional.

Rupiah Melemah di Awal Pekan

Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026), rupiah spot dibuka melemah. Pukul 09.11 WIB, rupiah berada di level Rp 16.838 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,30% dari posisi akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.787 per dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa serangan AS-Israel ke Iran berpotensi membuat rupiah melemah. Serangan ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump tidak puas dengan pertemuan antara delegasi AS dan delegasi Iran terkait reaktor nuklir dan misil.

“Ini kemungkinan besar dampaknya rupiah melemah,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi, Minggu (1/3/2026).

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir pekan. Hal ini terjadi di tengah sentimen “risk off” di pasar ekuitas.

Investor diperkirakan melakukan strategi “wait and see” mengantisipasi rilis sejumlah data ekonomi penting Indonesia, seperti data inflasi, data manufakturing, dan data perdagangan, yang akan dirilis pada Senin.

Peran BI dalam Menghadapi Ketidakpastian Pasar

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, BI memainkan peran penting sebagai penjaga stabilitas sistem keuangan. Melalui berbagai instrumen kebijakan, BI berupaya memastikan bahwa pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Beberapa langkah yang dilakukan BI antara lain:

  • Pemantauan pasar secara intensif – BI terus mengamati pergerakan pasar keuangan baik domestik maupun internasional.
  • Intervensi pasar – Melalui transaksi NDF, DNDF, dan spot, BI memastikan rupiah tidak mengalami volatilitas berlebihan.
  • Optimalisasi kebijakan suku bunga – BI terus memperbaiki efektivitas transmisi kebijakan suku bunga agar dapat mendukung stabilitas makroekonomi.

Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap mampu menjaga kepercayaan investor dan menjaga keseimbangan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global.

Pos terkait