Perkembangan Inflasi dan Kebijakan Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) terus memantau risiko inflasi domestik yang muncul akibat kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, termasuk untuk sektor pangan. Situasi ini muncul setelah terjadinya konflik antara Iran dan Israel, yang turut memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan bahwa bank sentral akan terus mengamati tiga jalur utama terkait kondisi global yang dapat memengaruhi perekonomian dalam negeri. “Sekarang kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan. Karena kalau harga minyaknya mengalami peningkatan, tentunya ada dampak biaya transportasi dan lain-lain,” ujarnya.
Selain itu, BI juga terus memperhatikan kondisi pasar keuangan yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah. Hal ini sangat penting karena bisa berdampak pada harga barang impor dan stabilitas harga dalam negeri. Selain itu, perlambatan perdagangan global juga menjadi perhatian BI, karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi nasional dan berdampak pada dinamika permintaan serta inflasi.
Peningkatan Inflasi pada Februari 2026
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat meningkat mencapai 4,76 persen secara tahunan. Perkembangan ini dipengaruhi oleh efek dasar rendah (low base effect) di mana pada tahun lalu pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang mendorong deflasi.
Kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) pada Februari 2026 mencatatkan inflasi sebesar 12,66 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Februari tahun sebelumnya yang mencatat deflasi sebesar minus 9,02 persen. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam harga barang yang diatur pemerintah.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026
Bank Indonesia menilai bahwa prospek ekonomi domestik pada 2026 tetap terjaga. Aida menyampaikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi, khususnya pada kuartal I, perlu dimanfaatkan secara optimal. Di periode ini, terdapat sejumlah hari raya keagamaan yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.
Selain itu, proyeksi konsumsi pemerintah juga diperkirakan meningkat. Pemerintah telah menyampaikan komitmennya untuk merealisasikan berbagai belanja pada kuartal I agar program-program berjalan dengan baik. “Kalau itu terjadi, tentunya konsumsi swasta akan mengalami peningkatan dan ini mengakibatkan permintaan domestik mengalami peningkatan dan juga produksi-produksi lainnya,” ujar Aida.
Pentingnya Menjaga Permintaan Domestik
Aida menegaskan pentingnya menjaga permintaan domestik, terutama di tengah kondisi global yang dinamis dan masih diliputi ketidakpastian. Penguatan sumber pertumbuhan dari dalam negeri dinilai menjadi modal utama untuk mempertahankan stabilitas dan momentum ekonomi.
Secara keseluruhan, Aida menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia tetap terjaga. Setelah tumbuh sebesar 5,11 persen pada 2025, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada pada kisaran 4,9-5,7 persen. Inflasi juga diproyeksikan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Stabilitas Eksternal dan Defisit Transaksi Berjalan
Dari sisi eksternal, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terkendali pada kisaran 0,9 persen hingga 0,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Hal ini menunjukkan bahwa BI terus berupaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri meskipun menghadapi tantangan dari luar.





