BI Targetkan Inflasi Makanan Volatil di Bawah 5% Tahun 2026

Aa1zpjdv 1
Aa1zpjdv 1



.CO.ID – JAKARTA.

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga pangan yang cenderung bergejolak (volatile food) agar tetap berada di bawah 5% sepanjang tahun 2026. Hal ini menjadi salah satu fokus utama dalam upaya menjaga keseimbangan ekonomi nasional, terutama mengingat peran penting pangan dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi volatile food pada bulan Februari tercatat sebesar 2,5% secara bulanan (month to month/MTM) dan 4,64% secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), yaitu di bawah 5%.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Firman Mochtar, menyampaikan bahwa angka tersebut sesuai dengan harapan yang telah disampaikan oleh TPIP. Ia menekankan bahwa pengendalian inflasi volatile food merupakan langkah penting dalam menjaga stabilitas harga secara keseluruhan.

“Angka ini masih berada dalam rentang yang kami sampaikan di Tim Pengendalian Inflasi Pusat, di mana inflasi volatile food dijaga berada di bawah 5%,” ujar Firman dalam acara Share & Learn bersama BI di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Tren Menurun Meski Ramadan

Firman menjelaskan bahwa meskipun periode Ramadan telah dimulai sejak Februari dan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Fitri, tren inflasi volatile food justru menunjukkan penurunan.

“Secara umum perkembangan inflasi volatile food atau harga bergejolak dalam tren menurun. Upaya menjaga harga pangan ini sangat penting,” katanya.

Menurutnya, pengendalian inflasi pangan tidak hanya krusial untuk menjaga stabilitas harga, tetapi juga mempertahankan daya beli masyarakat. Banyak produk makanan olahan menggunakan komoditas volatile food sebagai bahan baku, sehingga tekanan pada kelompok ini dapat merembet ke inflasi inti.

“Inflasi volatile food juga bisa berpengaruh terhadap inflasi inti,” jelasnya.

Pemantauan Berkala

Meskipun tren inflasi volatile food terkendali, BI bersama pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga menjelang Idul Fitri. Peningkatan permintaan masyarakat pada momen tersebut sering kali berdampak pada kenaikan harga komoditas pangan.

Beberapa langkah strategis telah dilakukan oleh BI dan pemerintah untuk memastikan pasokan pangan cukup dan stabil. Di antaranya adalah koordinasi dengan para pelaku usaha, pengawasan terhadap distribusi barang, serta penguatan sistem informasi harga pasar.

Selain itu, BI juga terus memperkuat kerja sama dengan lembaga lain seperti Kementerian Perdagangan dan Bulog untuk memastikan ketersediaan bahan pokok. Dengan demikian, masyarakat akan tetap mendapatkan akses terhadap pangan yang terjangkau dan berkualitas.

Peran Masyarakat

Firman juga menyoroti peran penting masyarakat dalam menjaga stabilitas harga pangan. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap fluktuasi harga dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu lonjakan permintaan.

Dengan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, BI optimis dapat menjaga inflasi volatile food di bawah 5% sepanjang 2026. Ini menjadi langkah penting dalam menjaga kesejahteraan rakyat dan stabilitas ekonomi nasional.

Pos terkait