Bitcoin tertekan setelah serangan Iran, uji level kritis US$ 60.000

Whatsapp Image 2023 12 09 At 6.27.28 Am
Whatsapp Image 2023 12 09 At 6.27.28 Am

Kondisi Pasar Kripto di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Mata uang kripto terus mengalami tekanan setelah konflik di kawasan Timur Tengah semakin memburuk. Dalam beberapa hari terakhir, harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penurunan yang signifikan dan berpotensi menguji level kritis US$ 60.000 atau sekitar Rp 1 miliar (kurs Rp 16.779 per dolar AS). Harga koin ini juga mengalami penurunan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap pagi hari ini (2/3), harga Bitcoin menyentuh US$ 65.851 atau setara dengan Rp 1,10 miliar. Level ini menunjukkan penurunan sebesar 1,60% dalam 24 jam terakhir dan turun 2,57% dalam sepekan. Penurunan ini mencerminkan ketidakstabilan pasar kripto akibat ketegangan geopolitik yang terjadi.

Selain Bitcoin, mata uang kripto lainnya seperti Ethereum (ETH) juga mengalami penurunan. Harga Ethereum saat ini berada di level US$ 1.941,13 atau setara dengan Rp 32,57 juta. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,12% dalam 24 jam terakhir dan 0,63% dalam tujuh hari terakhir. Sementara itu, harga XRP juga turun sebesar 1,50% dalam 24 jam terakhir dan 2,51% dalam sepekan terakhir. Saat ini, nilai XRP berada di level US$ 1,35 atau setara dengan Rp 22.652.

Pengaruh Konflik AS-Iran terhadap Harga Minyak

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak. Harga minyak melonjak sebesar 8% akibat konflik tersebut dan diprediksi akan mencapai US$ 100 per barel. Perkembangan ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Kualitas Udara dan Proyek Energi di Indonesia

Di sisi lain, kualitas udara di Pontianak tercatat sebagai yang terburuk di Indonesia pada pagi hari ini. Tingkat polusi udara tergolong sangat tidak sehat, sehingga menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat. Di samping itu, Raharja Energi Cepu (RATU) memberikan informasi mengenai prospek proyek LNG Blok Masela di Maluku. Proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam sektor energi nasional.

Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Konflik di Timur Tengah semakin meluas setelah serangan awal Israel terhadap Iran berkembang menjadi konfrontasi militer terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Iran merespons dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di berbagai negara Teluk.

Di tengah situasi ini, harga Bitcoin terus turun di bawah US$ 64.000 atau setara dengan Rp 1,07 miliar. Namun, saat ini sudah mampu bertahan di level tersebut. Stabilitas relatif ini dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor teknis. Likuiditas perdagangan akhir pekan cenderung tipis, dan banyak posisi leverage sudah terlikuidasi. Kondisi ini membatasi tekanan jual tambahan dalam jangka sangat pendek.

Prediksi Analis dan Skenario yang Mungkin Terjadi

Meski demikian, analis memperingatkan bahwa jika pasar saham dan komoditas mengalami aksi jual tajam, Bitcoin berisiko menghadapi gelombang kedua tekanan risk-off. Dalam skenario tersebut, level US$ 60.000 menjadi garis pertahanan krusial berikutnya, bahkan membuka kemungkinan penurunan lebih dalam.

Secara historis, setiap eskalasi di Timur Tengah memicu pola serupa. Bitcoin melemah pada guncangan awal, lalu pulih setelah pasar tradisional mencerna situasi dan ketegangan mereda. Pola ini terlihat dalam ketegangan sebelumnya pada 2020 maupun serangan balasan Iran terhadap Israel pada April 2025.

Namun kali ini, skalanya dinilai berbeda. Serangan yang menjangkau Dubai, Kuwait, hingga Bahrain menunjukkan konflik telah menyentuh wilayah-wilayah dengan sensitivitas ekonomi tinggi. Jika perang meluas dan memicu lonjakan harga minyak global, sentimen risiko bisa memburuk secara luas.

Bitcoin Sebagai Aset Berisiko

Meski kerap disebut sebagai emas digital, dalam praktiknya Bitcoin lebih sering bergerak seperti aset berisiko dibanding aset lindung nilai. Karena itu, tekanan geopolitik yang berkepanjangan justru dapat menyeretnya turun bersama aset berisiko lainnya.

Level US$ 60.000 yang sempat menjadi penopang saat koreksi tajam 5 Februari 2026, lalu kini kembali menjadi batas kritis. Bedanya, kali ini ia diuji di tengah konflik regional yang jauh lebih kompleks dan berisiko tinggi terhadap stabilitas ekonomi global.

Pos terkait