Jakarta – Harga Bitcoin saat ini berada di kisaran US$67.000. Berdasarkan data yang dikutip dari CoinMarketCap pada Jumat (20/2/2026) pukul 08.47 WIB, harga Bitcoin tercatat sebesar US$67.234 atau mengalami kenaikan sebesar 1,05% dalam seminggu terakhir.
Analis Reku Fahmi Almuttaqin menyampaikan bahwa pada awal Ramadan, harga Bitcoin sempat berada di kisaran US$66.000. Angka tersebut menunjukkan penurunan lebih dari 45% dibandingkan rekor tertinggi sebesar US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025. Tekanan ini menjadi salah satu fase paling sulit bagi pasar kripto sejak siklus tahun 2022.
Pada 5 Februari lalu, harga Bitcoin bahkan turun ke level US$62.000. Hal ini memicu likuidasi posisi leverage sebesar lebih dari US$2 miliar dalam waktu seminggu. Pergerakan ini menunjukkan tekanan yang signifikan terhadap investor dan pasar kripto secara keseluruhan.
Tekanan dari ETF dan Korelasi dengan Nasdaq
Dalam tiga bulan terakhir, dana keluar dari ETF Bitcoin spot mencapai angka US$6,18 miliar. Tekanan jual juga terjadi pada produk IBIT milik BlackRock, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang utama arus masuk dana institusional.
Selain itu, korelasi antara Bitcoin dengan indeks saham teknologi Nasdaq kini dinilai lebih kuat dibandingkan dengan emas. Kondisi ini sementara waktu mematahkan narasi bahwa Bitcoin adalah “emas digital”.
Kekhawatiran pasar terhadap valuasi sektor kecerdasan buatan (AI) serta rotasi modal dari aset berisiko turut memberikan tekanan tambahan di pasar kripto.
Peluang Rebound Masih Terbuka
Meski demikian, Fahmi menilai bahwa tekanan yang terjadi saat ini lebih mengarah pada fase konsolidasi ketimbang pelemahan fundamental industri. Ia menjelaskan bahwa untuk memulihkan tren bullish, Bitcoin perlu kembali menembus level US$80.000, yaitu area moving average 50 hari.
“Selama titik ini belum tercapai, pasar kemungkinan akan bergerak dalam fase konsolidasi. Jika support US$65.000 kembali ditembus dengan volume yang signifikan, area US$55.000–60.000 dapat menjadi rentang harga berikutnya,” ujarnya kepada .co.id.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Bitcoin
Beberapa faktor yang memengaruhi harga Bitcoin antara lain:
- Perubahan pola investasi: Investor mulai beralih ke aset yang dianggap lebih stabil, seperti emas atau instrumen tradisional.
- Korelasi dengan pasar saham: Peningkatan korelasi antara Bitcoin dan indeks Nasdaq menunjukkan bahwa fluktuasi pasar saham dapat memengaruhi harga kripto.
- Perkembangan regulasi: Regulasi yang lebih ketat atau kebijakan pemerintah dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kripto.
- Inovasi teknologi: Penemuan baru dalam bidang blockchain dan kripto dapat meningkatkan minat investor.
Prediksi dan Harapan Pasar
Banyak analis optimis bahwa Bitcoin masih memiliki peluang untuk pulih dalam jangka menengah. Namun, hal ini bergantung pada beberapa faktor eksternal, seperti situasi ekonomi global, perkembangan teknologi, dan kebijakan pemerintah.
Pasca-penurunan drastis, banyak investor memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut sebelum melakukan investasi besar. Dengan konsolidasi yang terjadi, pasar kripto bisa jadi menjadi lebih stabil dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Harga Bitcoin saat ini sedang dalam fase konsolidasi setelah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Meski ada tekanan dari berbagai faktor, peluang rebound masih terbuka jika Bitcoin mampu menembus level penting seperti US$80.000. Investor disarankan untuk tetap waspada dan memantau perkembangan pasar secara berkala.





