BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Saat Mudik Lebaran 2026

Aa1xkazv
Aa1xkazv



JAKARTA — Musim hujan yang masih berlangsung hingga awal tahun menimbulkan potensi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian serius menjelang arus mudik Lebaran 2026, yang selalu mengakibatkan lonjakan mobilitas masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan komitmennya untuk mendukung kelancaran dan keselamatan Angkutan Lebaran 2026 melalui penyediaan informasi cuaca, iklim, serta peringatan dini yang akurat dan terintegrasi. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan.

Faisal mengapresiasi koordinasi lintas sektor yang telah dilakukan sejak awal Februari. Menurutnya, Angkutan Lebaran merupakan agenda nasional dengan tingkat pergerakan masyarakat yang sangat tinggi sehingga memerlukan kesiapan menyeluruh, terutama karena Idulfitri tahun ini masih berada dalam periode musim hujan.

“Informasi meteorologi berperan penting dalam mendukung keselamatan dan kelancaran operasional transportasi darat, laut, dan udara selama perayaan Idulfitri dan libur Lebaran nanti,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut, BMKG juga memaparkan prakiraan kondisi cuaca untuk Februari hingga Maret 2026. Pada Februari, curah hujan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga tinggi, dengan peluang sangat tinggi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Memasuki Maret, kondisi hujan secara umum masih berada pada kategori yang sama. Potensi hujan sangat tinggi diperkirakan terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.

“Kami sampaikan bahwa nantinya di beberapa daerah pada saat memasuki Idulfitri, kita masih menghadapi cuaca ekstrem, terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang merupakan rute dengan mobilitas pemudik paling banyak. Tapi di akhir periode Lebaran atau sepuluh hari terakhir di bulan Maret itu curah hujan sudah mulai melandai,” jelas Faisal.

Untuk meminimalkan dampak cuaca buruk, BMKG mendorong langkah mitigasi terpadu, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan secara situasional berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan ilmiah. Pemerintah daerah dengan risiko tinggi dapat berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG terkait pelaksanaan OMC.

“BMKG terus melakukan analisis dan pemantauan kondisi atmosfer secara berkelanjutan serta menyampaikan informasi dan peringatan dini cuaca secara tepat waktu guna mendukung keselamatan masyarakat dan aktivitas terutama selama periode Angkutan Lebaran 2026,” ungkapnya.

Dari sisi layanan, BMKG telah menyiapkan sistem informasi cuaca berbasis digital yang terintegrasi untuk mendukung berbagai moda transportasi. Untuk sektor penerbangan tersedia System of Interactive Aviation Meteorology (Ina-SIAM), jalur darat didukung Digital Weather for Traffic (DWT), dan sektor pelayaran menggunakan Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS).

Masyarakat dapat mengakses informasi cuaca melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, media sosial, hingga layar informasi cuaca di sejumlah ruas tol. Penyebaran informasi ini diharapkan membantu masyarakat dan operator transportasi mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

“Apabila ada kondisi yang membahayakan seperti Siklon Tropis Senyar beberapa waktu lalu, kami akan bersurat langsung kepada para kepala daerah agar dapat mengambil tindakan atau antisipasi segera,” jelasnya.

Sebanyak 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di seluruh Indonesia disiagakan selama periode Lebaran. Selain itu, posko BMKG di 38 provinsi beroperasi 24 jam untuk memastikan layanan informasi dan peringatan dini tetap berjalan optimal.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menekankan empat faktor utama keberhasilan Angkutan Lebaran 2026, yakni keselamatan dan keamanan, perhatian terhadap detail, sinergi dan kolaborasi, serta kewaspadaan terhadap potensi gangguan di lapangan.

Dia juga mengapresiasi dukungan BMKG dalam menyediakan pembaruan data cuaca yang menjadi dasar pengambilan keputusan lintas sektor.

“Kita mengajak dan menekankan pentingnya komitmen kolaborasi aktif dan sinergi operasional yang cepat-tanggap dengan unsur-unsur teknis Pemerintah Daerah dan seluruh kementerian/lembaga stakeholder terkait, dalam hal kewaspadaan antisipasi dini dan penanganan mitigasi titik-titik krusial yang dinilai rawan bencana,” pesan Duddy.

Melalui penguatan koordinasi serta dukungan informasi berbasis data dan pemantauan real-time, pemerintah berharap penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 dapat berjalan aman dan lancar. Targetnya, operasional transportasi selama periode mudik dan arus balik mampu mewujudkan zero accident dan zero fatality.

Pos terkait