Bola Barongsai Hiasi Kampung Cina Manado Jelang Cap Go Meh

Lampion Deretan Lampion Di Kampung Cina Manado Sulawesi Utara
Lampion Deretan Lampion Di Kampung Cina Manado Sulawesi Utara

Kemeriahan Perayaan Cap Go Meh di Kampung Cina Manado

Kawasan Kampung Cina Manado, Sulawesi Utara, kembali menjadi pusat perhatian pada malam Minggu (1/3/2026). Seiring menjelang perayaan Cap Go Meh 2026, ratusan warga dan wisatawan mancanegara memadati pelataran Kelenteng Kwan Kong dan Kelenteng Ban Hing Kiong untuk menyaksikan atraksi Barongsai yang tak biasa.

Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya delapan kelompok Barongsai tampak lincah dalam gerakan mereka. Mereka melakukan aksi “wara-wiri” sambil berburu angpao yang diberikan oleh para pengunjung. Atraksi ini tidak hanya menarik perhatian orang dewasa, tetapi juga membuat anak-anak terpesona.

Strategi Menarik untuk Mengundang Perhatian

Barongsai memiliki strategi khusus untuk menarik perhatian pengunjung, terutama anak-anak. Para penari menggunakan trik unik yang membuat anak-anak gemas dan langsung merayu orang tua mereka agar memberikan angpao. Setelah angpao diikat pada sebatang buluh, Barongsai akan menjemputnya dengan gerakan atraktif, mengangguk santun sebagai tanda terima kasih, bahkan memberikan “ciuman” hangat kepada si anak pemberi angpao.

Barongsai adalah tarian tradisional Tiongkok yang memiliki sejarah panjang, berakar dari mitologi dan legenda kuno. Tarian ini, yang menampilkan dua penari di dalam kostum singa atau naga, dipercaya sebagai simbol keberanian, keberuntungan, dan kekuatan untuk mengusir roh jahat.

Aksi Langka Saat Antrean Angpao Sedang Sepi

Ada pemandangan unik saat antrean angpao sedang sepi. Bukannya beristirahat, kelompok Barongsai ini justru menyuguhkan aksi langka dengan bermain sepak bola. Sebuah benda menyerupai bola digigit, lalu ditendang dengan lincah dari satu Barongsai ke Barongsai lainnya. Aksi ini menambah keseruan acara dan membuat para pengunjung tertawa.

Pertunjukan Semakin Lengkap dengan Hadirnya Liong

Kemeriahan kian memuncak saat malam semakin larut. Di Kelenteng Ban Hing Kiong, pertunjukan semakin lengkap dengan hadirnya Liong. Gerakan naga yang melesat cepat memburu mustika tersebut sukses membuat penonton, termasuk turis asing, berdecak kagum. Aksi Liong ini menambah daya tarik acara dan menciptakan suasana yang sangat meriah.

Toleransi dan Kebersamaan dalam Perbedaan

Di balik gemuruh musik dan gerakan akrobatik, suasana toleransi kian terasa kental. Pengunjung dari berbagai latar belakang agama tampak berbaur secara alami tanpa sekat. Bahkan, tak sedikit warga non-Tionghoa yang antusias ikut memberikan angpao.

Kendel, salah satu warga yang membawa serta istri dan anaknya, mengaku sangat menikmati momen tahunan ini. “Ini hiburan gratis yang menghibur,” tuturnya. Ia menceritakan betapa anak-anaknya sangat antusias hingga enggan diajak pulang. “Paling senang dengan ini adalah anak-anak, saat diminta pulang mereka ngotong tinggal, katanya mau lihat Barongsai,” tambahnya.

Pengalaman Berharga dalam Perayaan

Hal senada diungkapkan oleh Andi. Baginya, momen di Kampung Cina bukan sekadar soal tontonan, melainkan soal kedamaian dalam perbedaan. “Di sana saya bertemu dengan teman-teman dari agama yang berbeda, sangat indah dan sejuk,” pungkasnya.




Pos terkait