Kekesalan Atlet dan Pelatih Pasuruan terhadap Pemangkasan Bonus Porprov 2025
Pemangkasan bonus yang diberikan kepada atlet Porprov 2025 Kota Pasuruan hingga 75 persen dari janji awal telah memicu gelombang protes besar-besaran. Aksi ini dilakukan oleh sejumlah atlet, pelatih, dan anggota GM KPPI Pasuruan yang mendatangi Kantor Wali Kota untuk menuntut kejelasan dan realisasi bonus sesuai dengan komitmen awal.
Janji Rp40 Juta, Realisasi Hanya Rp10 Juta
Masalah utama yang menjadi sorotan adalah penurunan nominal bonus yang diterima atlet peraih medali. Sebelumnya, bonus untuk atlet peraih medali emas dijanjikan sebesar Rp30 juta bahkan sempat beredar angka Rp40 juta. Namun dalam realisasinya, atlet emas hanya menerima Rp10 juta. Peraih perak yang dijanjikan Rp20 juta menerima Rp7,5 juta, sedangkan perunggu dari Rp10 juta menjadi Rp5 juta.
Ketua GM KPPI Pasuruan Ayi Suhaya menyatakan bahwa para atlet telah berlatih lebih dari satu tahun dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya pribadi yang tidak sedikit. Ia mengatakan bahwa apresiasi yang diterima tidak sesuai dengan yang dijanjikan, sehingga membuat teman-temannya kecewa.
Lima Tuntutan Utama Massa
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan lima tuntutan utama kepada Pemerintah Kota Pasuruan:
- Pertama, menolak keras pemangkasan bonus dan menuntut agar nominal bonus emas dikembalikan ke angka Rp30–40 juta sesuai komitmen awal.
- Kedua, mengkritik komitmen pemerintah daerah yang dinilai tidak konsisten dalam menghargai prestasi atlet sebagai generasi muda berprestasi dan aset daerah.
- Ketiga, mempertanyakan janji penyelesaian kekurangan bonus melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) yang hingga kini belum terealisasi.
- Keempat, mendesak pemerintah mencari solusi anggaran alternatif melalui optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau dana cadangan, bukan dengan memangkas hak atlet.
- Kelima, memberikan ultimatum kepada Wali Kota, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Sekretaris Daerah, dan KONI agar segera menyelesaikan persoalan tersebut dan memberikan kepastian pembayaran sisa bonus.
Dampak pada Motivasi Atlet
Wahyu, perwakilan pelatih sekaligus asisten pelatih cabang olahraga MMA, mengatakan bahwa persoalan ini berdampak langsung terhadap motivasi atlet. Ia menyatakan bahwa jika penghargaan tidak jelas, bagaimana atlet bisa tetap semangat mempertahankan prestasi. Ia juga mengingatkan potensi atlet berprestasi berpindah ke daerah lain yang menawarkan bonus lebih tinggi jika persoalan ini tidak segera diselesaikan.
Penjelasan Wali Kota Pasuruan
Sebelumnya, di beberapa kesempatan, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo memberikan penjelasan terkait kondisi anggaran daerah. Ia menegaskan bahwa penganggaran bonus telah melalui mekanisme perencanaan dan pembahasan yang panjang. Menurutnya, penganggaran tidak bisa serta-merta diubah di tengah jalan karena semua sudah melalui proses konstruksi anggaran sebelumnya.
Adi menjelaskan bahwa pada Porprov 2025 jumlah cabang olahraga (cabor) yang diikuti Kota Pasuruan bertambah, sehingga kebutuhan anggaran juga meningkat. Di sisi lain, kapasitas fiskal daerah mengalami penyesuaian. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak lepas tangan terhadap prestasi atlet, namun meminta semua pihak memahami bahwa perubahan anggaran tidak dapat dilakukan secara mendadak karena harus mengikuti tahapan dan aturan yang berlaku.





