BPS: Industri Pengolahan Tetap Tumbuh Sebagai Penopang Ekspor Non-Migas

Aa1pp4r1 2
Aa1pp4r1 2



Pertumbuhan Ekspor Nonmigas Indonesia pada Januari 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 mencapai sebesar US$ 21,26 miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 4,38% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kinerja ekspor industri pengolahan yang tetap kuat meskipun ekspor dari sektor pertanian/perkebunan dan pertambangan menunjukkan penurunan.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa industri pengolahan menjadi bantalan utama kinerja ekspor di awal tahun 2026 dengan pertumbuhan sebesar 8,19%. Ia menyampaikan hal ini melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Beberapa produk industri yang tumbuh sangat tinggi antara lain:

  • Produk olahan minyak sawit meningkat sebesar 54,22% yoy
  • Produk nikel meningkat sebesar 42,31% yoy
  • Besi dan baja meningkat sebesar 14,96% yoy
  • Semi konduktor meningkat sebesar 37,44% yoy
  • Kendaraan bermotor meningkat sebesar 22,99% yoy

Selain itu, produk olahan timah juga mengalami pertumbuhan signifikan hingga 191% karena adanya kebijakan larangan ekspor bijih timah yang memengaruhi naiknya ekspor produk olahan timah.

Nilai ekspor industri pengolahan pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 18,51 miliar, meningkat dibandingkan Januari 2025 yang sebesar US$ 17,11 miliar.

Tujuan Utama Ekspor Nonmigas Indonesia

BPS mencatat bahwa tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 43,77% pada Januari 2026. Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$ 5,27 miliar (24,80 persen), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$ 2,51 miliar (11,82 persen) dan India sebesar US$ 1,52 miliar (7,15 persen).

Total ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada Januari 2026 adalah sebesar US$ 2,82 miliar atau tumbuh 13,60 persen dibandingkan dengan Januari tahun sebelumnya (y-on-y).

Kondisi Impor pada Januari 2026

Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 21,20 miliar, atau naik 18,21% yoy dari Januari 2025. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar US$ 18,04 miliar, naik 16,71% yoy dibandingkan Januari 2025.

Impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52% yoy. Kondisi ini menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 3,17 miliar.

Peningkatan Impor Berdasarkan Penggunaan

Peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat sebesar US$ 14,88 miliar, naik 14,67% dibandingkan Januari 2025. Sementara impor barang modal tercatat sebesar US$ 4,49 miliar, atau naik 35,23% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Amalia menyebut, peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik serta investasi pada sektor riil, karena kedua kelompok barang ini umumnya digunakan untuk mendukung proses produksi industri dan ekspansi usaha.

Negara Asal Impor Nonmigas Utama

Lebih lanjut, Amalia juga membeberkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah China, Australia, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,92%.

China masih menjadi negara utama dengan nilai impor US$ 7,89 miliar (43,75%), diikuti oleh Australia sebesar US$ 1,07 miliar (5,92%) dan Jepang sebesar US$ 0,95 miliar (5,25%).

“Impor dari China utamanya berupa mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik,” tandasnya.

Pos terkait