.CO.ID – JAKARTA.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa berdasarkan data historis selama lima tahun terakhir, setiap momentum Ramadan selalu menunjukkan kenaikan inflasi yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK).
Pada Februari 2026, IHK mencatatkan inflasi sebesar 0,68% secara bulanan (month to month/mtm), setelah sebelumnya pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,15% mtm.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, inflasi pada Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan lebih rendah dibandingkan inflasi pada Ramadan April 2022 yang mencapai 0,95% mtm dan Ramadan Maret 2025 yang mencapai 1,65% mtm.
“Inflasi Ramadan tahun ini lebih rendah dibandingkan Ramadan 2022 dan 2025,” ujar Ateng dalam konferensi pers yang digelar Senin (2/3/2026).
Secara umum, Ateng menjelaskan bahwa komoditas yang mengalami fluktuasi harga serta komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyebab utama inflasi pada setiap momen Ramadan.
Beberapa komoditas yang menyumbang inflasi pada April 2022 antara lain minyak goreng, bensin, daging ayam ras, tarif angkutan umum, ikan segar, dan bahan bakar rumah tangga.
Sementara itu, pada periode Maret 2025, inflasi disumbang oleh tarif listrik, bawang merah, cabai rawit, ikan segar, emas perhiasan, dan daging ayam ras.
Pada Februari 2026, komoditas yang menyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, cabai merah, dan tomat.
Faktor Penyebab Inflasi Selama Ramadan
Berikut adalah beberapa faktor utama yang sering menjadi penyebab inflasi selama bulan Ramadan:
-
Permintaan yang meningkat
Pada bulan Ramadan, permintaan terhadap berbagai kebutuhan pokok dan kebutuhan khusus seperti makanan, pakaian, dan perlengkapan ibadah meningkat. Hal ini dapat memicu kenaikan harga karena peningkatan permintaan yang tidak sebanding dengan pasokan. -
Kenaikan harga bahan baku
Beberapa komoditas seperti minyak goreng, bahan bakar, dan bahan makanan tertentu sering mengalami kenaikan harga akibat fluktuasi pasar atau kenaikan biaya produksi. -
Tarif transportasi dan jasa
Tarif angkutan umum, listrik, dan jasa lainnya juga sering kali naik selama Ramadan, terutama jika ada kenaikan biaya operasional atau regulasi baru. -
Perubahan pola konsumsi
Masyarakat cenderung membeli lebih banyak barang dan jasa selama Ramadan, termasuk makanan ringan, camilan, dan produk-produk yang berkaitan dengan ibadah. Perubahan ini dapat memengaruhi permintaan dan harga pasar.
Komoditas yang Sering Menyumbang Inflasi
Beberapa komoditas yang sering menjadi penyebab inflasi selama Ramadan antara lain:
-
Emas perhiasan
Harga emas sering mengalami kenaikan karena permintaan yang tinggi dari masyarakat untuk pembelian sebagai investasi atau hadiah. -
Daging ayam ras
Kenaikan harga daging ayam sering terjadi karena permintaan yang meningkat dan fluktuasi harga pakan ternak. -
Cabai rawit dan cabai merah
Cabai merupakan salah satu komoditas yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga karena dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan musim tanam. -
Ikan segar
Harga ikan segar bisa naik karena keterbatasan pasokan atau kenaikan biaya pengangkutan. -
Tomat
Tomat juga sering mengalami kenaikan harga karena ketidakstabilan produksi dan permintaan yang meningkat.
Kesimpulan
Meskipun inflasi selama Ramadan selalu terjadi, tren terbaru menunjukkan bahwa tingkat inflasi pada Februari 2026 lebih rendah dibandingkan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan stabilisasi pasar mulai memberikan dampak positif. Namun, masyarakat tetap perlu waspada terhadap kenaikan harga komoditas tertentu, terutama yang sering menjadi penyumbang inflasi.





