BPS umumkan nilai ekspor dan impor RI melalui Selat Hormuz 2025, termasuk dari Oman, Iran, dan UEA

Aa1hb85e 2
Aa1hb85e 2

Perdagangan Indonesia dengan Negara di Jalur Selat Hormuz

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan informasi mengenai nilai perdagangan Indonesia dengan beberapa negara yang berada di jalur strategis Selat Hormuz. Data ini disampaikan dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran arus logistik global.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum dapat menentukan besarnya potensi gangguan perdagangan akibat situasi geopolitik yang memanas. Ia menjelaskan bahwa untuk mengetahui persentase dampak yang mungkin terjadi, diperlukan kajian lebih lanjut. Namun, sebagai gambaran umum, berikut data ekspor dan impor dari negara-negara tersebut:

Impor Non-Migas dari Negara Jalur Selat Hormuz

Pada tahun 2025, impor non-migas Indonesia dari Iran mencapai USD 8,4 juta. Komoditas utama yang diimpor meliputi buah-buahan sebesar USD 5,9 juta, besi dan baja senilai USD 0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanis sebesar USD 0,7 juta.

Sementara itu, impor non-migas dari Oman mencapai USD 718,8 juta. Komoditas utamanya adalah besi dan baja sebesar USD 590,5 juta, bahan bakar organik senilai USD 56,7 juta, serta garam, belerang, batu dan semen sebesar USD 44,2 juta.

Impor dari Uni Emirat Arab (UEA) tercatat sebesar USD 1,4 miliar. Komoditas terbesar yang diimpor adalah logam mulia dan perhiasan senilai USD 511,1 juta, diikuti garam, belerang, batu dan semen sebesar USD 243,2 juta, serta aluminium dan barang turunannya senilai USD 181,6 juta.

Ateng juga menyebutkan bahwa impor logam mulia dan perhiasan dari UEA mencapai USD 511,1 juta, yang lebih kecil dibandingkan dari Australia.

Ekspor Non-Migas ke Negara Jalur Selat Hormuz

Dari sisi ekspor, pengiriman non-migas Indonesia ke Iran tercatat sebesar USD 249,1 juta. Komoditas utamanya meliputi buah-buahan senilai USD 86,4 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 22 juta.

Ekspor non-migas ke Oman mencapai USD 428,8 juta. Komoditas utama yang diekspor meliputi lemak dan minyak hewan/nabati senilai USD 227,7 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 64,2 juta, serta bahan mineral senilai USD 48,1 juta.

Ekspor non-migas terbesar Indonesia ke UEA mencapai USD 4,0 miliar. Rinciannya meliputi lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 510,3 juta, kendaraan dan bagiannya senilai USD 363,5 juta, serta logam mulia dan perhiasan sebesar USD 183,6 juta.

Tantangan dan Kesiapan

Meski data perdagangan menunjukkan angka yang signifikan, situasi geopolitik yang tidak pasti tetap menjadi tantangan bagi stabilitas perdagangan. Dengan adanya ancaman terhadap jalur laut, khususnya Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur penting bagi arus energi global, Indonesia harus terus memantau perkembangan dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi.

Pihak BPS akan terus melakukan analisis dan pemantauan terhadap kondisi ekonomi dan perdagangan, khususnya terkait dampak dari konflik regional. Dengan data yang tersedia, pemerintah dan pelaku bisnis dapat merencanakan strategi yang lebih baik untuk menghadapi risiko yang muncul.

Pos terkait