JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung pembiayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor bahan bangunan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pelaksanaan Program Gentengisasi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Program Gentengisasi dirancang untuk mendorong penggunaan material atap yang lebih layak dan sejuk seperti genteng, menggantikan penggunaan seng maupun asbes. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan hidup masyarakat serta menjaga lingkungan permukiman yang lebih baik.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa perseroan berada di posisi strategis sebagai fasilitator pembiayaan yang menghubungkan pengusaha genteng dengan pengembang perumahan maupun pengguna akhir melalui skema KUR Perumahan. Ia menjelaskan bahwa BRI siap memfasilitasi pembiayaan ketika sudah ada kontrak antara pengusaha genteng dan developer atau pengguna akhir.
“Kebetulan kami sudah memiliki KUR Perumahan dan bahan bangunan seperti ini merupakan bagian dari pembiayaan tersebut,” ujar Hery dalam keterangan resmi.
Menurutnya, pembiayaan tidak hanya mendorong peningkatan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Penyaluran KUR Perumahan dinilai mampu menggerakkan aktivitas produksi UMKM bahan bangunan, memperkuat rantai pasok sektor konstruksi perumahan, serta membuka peluang lapangan kerja di berbagai wilayah. Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam penyediaan material juga diharapkan meningkatkan daya saing industri genteng dalam negeri.
Pada saat yang sama, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyebut BRI hingga saat ini menjadi bank penyalur terbesar KUR Perumahan sehingga memiliki peran strategis dalam memperkuat program perumahan rakyat.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto menggagas program nasional penggantian atap rumah berbahan seng dengan genteng sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia yang indah, sejuk, dan layak huni. Gagasan tersebut disampaikan Presiden saat memberikan Taklimat Presiden dalam agenda Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
Prabowo menilai penggunaan atap seng yang semakin masif di hampir seluruh kota, kecamatan, hingga desa telah mengurangi kualitas lingkungan permukiman. Selain menimbulkan panas bagi penghuni, seng juga mudah berkarat dan dinilai tidak mencerminkan keindahan Indonesia. “Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Seng panas, seng berkarat,” tegas Prabowo.
Untuk itu, Presiden mengusulkan gerakan nasional yang ia sebut sebagai proyek gentengisasi seluruh Indonesia. Menurutnya, industri genteng relatif mudah dikembangkan karena peralatannya tidak mahal dan bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri.
Prabowo menjelaskan bahwa Koperasi Merah Putih akan dilengkapi dengan pabrik genteng di berbagai daerah. Genteng tersebut akan dibuat dari bahan tanah yang dicampur dengan zat tambahan, termasuk limbah tertentu, agar lebih ringan dan kuat. “Saya dapat laporan dari profesor-profesor kita, limbah abu batu bara bisa dicampur dengan tanah dan menjadi bahan genteng yang baik,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan dukungan sebelum dan sesudah pelaksanaan program gentengisasi. Dia juga mendorong kepala daerah untuk berpartisipasi aktif demi mempercantik wilayah masing-masing.





