BRIN: Gelombang Rossby Sebabkan Hujan Ekstrem di Padang dan Jayapura

86c8dcda 3819 49e3 8e29 D99769e012cb
86c8dcda 3819 49e3 8e29 D99769e012cb

Peran Gelombang Rossby Ekuatorial dalam Hujan Ekstrem di Indonesia

Gelombang Rossby Ekuatorial (Equatorial Rossby/ER waves) menjadi salah satu faktor penting yang memicu hujan ekstrem di beberapa wilayah ekuatorial Indonesia, termasuk Padang dan Jayapura. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa gelombang atmosfer ini memiliki dampak signifikan terhadap pola cuaca ekstrem di kawasan tersebut.

Fadli Nauval, peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa ER waves adalah gelombang atmosfer skala besar yang bergerak ke arah barat di sekitar ekuator dengan periode antara 10 hingga 30 hari. Gelombang ini mampu bertahan cukup lama di suatu wilayah, memberi ruang bagi sistem konvektif berkembang dan terorganisasi.

Di kawasan Maritim Indonesia, interaksi antara gelombang atmosfer, suhu permukaan laut yang hangat, serta topografi kompleks membuat respons konveksi sangat sensitif. Ketika gelombang tersebut bertemu lingkungan atmosfer yang lembap, potensi hujan ekstrem meningkat dan cenderung lebih persisten.

Penelitian ini menggunakan data curah hujan harian dan parameter atmosfer dari tahun 2001 hingga 2023. Hujan ekstrem diidentifikasi berdasarkan ambang persentil ke-95 untuk kondisi basah ekstrem dan persentil ke-5 untuk kondisi kering ekstrem. Identifikasi gelombang atmosfer dilakukan dengan metode Wheeler-Kiladis untuk memisahkan tipe gelombang seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Kelvin, Rossby, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG).

Hasil analisis menunjukkan bahwa di Padang, ER waves secara mandiri mampu meningkatkan peluang hujan ekstrem. Dampaknya semakin kuat ketika berinteraksi dengan kondisi La Niña yang menghadirkan latar belakang atmosfer lebih lembap. Peningkatan paling signifikan terjadi saat beberapa mekanisme atmosfer aktif bersamaan, seperti ER waves, MJO, dan Kelvin, serta didukung sirkulasi meridional dan pengaruh topografi Bukit Barisan.

Sementara itu, di Jayapura, peningkatan peluang hujan ekstrem paling kuat terjadi saat ER waves berinteraksi dengan sirkulasi meridional dan gelombang Mixed Rossby-Gravity. Kombinasi tersebut memfokuskan konvergensi udara di sekitar ekuator dan meningkatkan akumulasi uap air di wilayah utara Papua.

Perbedaan karakteristik geografis turut memengaruhi pola waktu hujan ekstrem. Di Padang, puncak hujan umumnya terjadi pada sore hingga malam hari akibat pemanasan siang dan efek orografis. Sebaliknya, di Jayapura, hujan ekstrem lebih sering terjadi pada dini hari, mencerminkan dominasi proses laut dan propagasi sistem konvektif dari arah timur.

Fadli menegaskan bahwa pemahaman terhadap interaksi berbagai proses atmosfer secara terpadu menjadi kunci untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem di Indonesia. Temuan ini diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini serta mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah rentan iklim tropis.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hujan Ekstrem

Beberapa faktor utama yang memengaruhi terjadinya hujan ekstrem di Indonesia antara lain:

  • Gelombang Rossby Ekuatorial (ER waves): Gelombang ini berperan sebagai mekanisme utama dalam memicu konveksi dan hujan ekstrem.
  • Interaksi dengan kondisi La Niña: Saat La Niña terjadi, atmosfer menjadi lebih lembap, sehingga memperkuat potensi hujan ekstrem.
  • Topografi kompleks: Wilayah seperti Bukit Barisan memengaruhi distribusi hujan dan intensitasnya.
  • Sirkulasi meridional: Pergerakan udara secara vertikal juga berkontribusi pada pembentukan hujan ekstrem.
  • Kombinasi mekanisme atmosfer: Kehadiran gelombang seperti MJO dan Kelvin bersamaan dengan ER waves meningkatkan risiko hujan ekstrem.

Perbedaan Pola Hujan di Berbagai Wilayah

Pola hujan ekstrem di Indonesia tidak sama di setiap daerah. Contohnya:

  • Padang: Hujan ekstrem biasanya terjadi pada sore hingga malam hari karena efek orografis dan pemanasan siang hari.
  • Jayapura: Hujan ekstrem lebih sering terjadi pada dini hari, dipengaruhi oleh proses laut dan propagasi sistem konvektif dari arah timur.

Pentingnya Prediksi Cuaca Ekstrem

Prediksi cuaca ekstrem sangat penting untuk mitigasi bencana. Dengan memahami interaksi antara berbagai proses atmosfer, seperti ER waves, MJO, dan Kelvin, ilmuwan dapat meningkatkan akurasi prediksi dan memberikan peringatan dini yang lebih tepat.

Rekomendasi untuk Mitigasi Bencana

Untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, diperlukan:

  • Peningkatan sistem peringatan dini berbasis data cuaca dan iklim.
  • Pemetaan wilayah rawan banjir dan tanah longsor berdasarkan pola hujan ekstrem.
  • Penguatan kerja sama antar lembaga dalam mengelola data dan informasi cuaca.
  • Edukasi masyarakat tentang cara menghadapi cuaca ekstrem dan tindakan pencegahan.

Dengan pendekatan yang terpadu dan berkelanjutan, Indonesia dapat lebih siap menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Pos terkait