Bank Tabungan Negara (BTN) memiliki target yang jelas untuk menjaga rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) di kisaran 51%–52% pada tahun 2026. Pencapaian ini merupakan hasil dari upaya signifikan dalam menekan CIR sepanjang tahun lalu. Hingga Desember 2025, BTN berhasil memperbaiki CIR menjadi 49,3%, turun dari 57,1% pada 2024.
Sekretaris Perusahaan BTN, Ramon Armando, menjelaskan bahwa penurunan CIR ini didorong oleh optimalisasi pertumbuhan pendapatan, khususnya dari pendapatan non bunga atau pendapatan operasional. “Pencapaian CIR ini didorong oleh optimasi pertumbuhan pendapatan, salah satunya dari pendapatan operasional,” ujarnya.
Kenaikan pendapatan operasional BTN antara lain dipengaruhi oleh pertumbuhan treasury transaction sebesar 28,3% secara tahunan (year on year/yoy). Kinerja ini meningkatkan kontribusi serta memperkuat struktur pendapatan operasional BTN. Selain itu, BTN juga mengoptimalkan lini business as usual melalui Deposits & Banking Service Related yang tumbuh 7,2% yoy dan berkontribusi 25,3% terhadap total pendapatan operasional.
Pertumbuhan ini, menurut Ramon, didukung oleh strategi penggarapan dana murah berkelanjutan, peningkatan volume dan transaksi digital melalui Bale by BTN, layanan trade finance, serta cash management melalui Bale Korpora.
Memasuki 2026, BTN memproyeksikan biaya operasional akan meningkat pada kisaran high single digit dibandingkan realisasi 2025. Kenaikan ini sejalan dengan upaya perseroan memperkuat value proposition kepada nasabah melalui sejumlah inisiatif strategis.
Ramon menyebutkan, alokasi biaya akan difokuskan pada pengembangan layanan digital, baik di segmen ritel melalui Bale by BTN maupun korporasi lewat Bale Korpora. Selain itu, terdapat skema sharing biaya dengan Bank Syariah Nasional (BSN) dalam pengembangan Bale Syariah by BTN untuk mendukung ekosistem bisnis digital BSN.
Di luar pengembangan digital, BTN juga mengarahkan belanja operasional pada inisiatif penguatan kualitas aset (asset quality), pengembangan digital store, serta sejumlah program lain yang mendukung pertumbuhan bisnis.
Meskipun biaya diproyeksikan naik, BTN tetap memastikan pengelolaan beban operasional dilakukan secara konservatif. Pada 2026, perseroan membidik CIR di level 51%–52%, dibandingkan posisi 49,2% pada Desember 2025.
“Tahun ini kami tetap menjaga pertumbuhan biaya operasional yang konservatif melalui cost control, optimalisasi proses operasional, serta peningkatan layanan digital,” kata Ramon.
Di saat bersamaan, BTN juga akan terus mendorong peningkatan fee based income dari treasury transaction, wealth management, serta transaksi digital guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan biaya dan pendapatan.





