Perubahan Konstelasi Politik Regional Pasca-Wafatnya Ayatollah Khamenei
Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, menjadi peristiwa penting yang berdampak besar terhadap dinamika politik regional dan global. Menurut Dr Adi Suryadi Culla, dosen Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Hasanuddin (Unhas), kematian Khamenei akan memberikan pengaruh signifikan terhadap konstelasi politik di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam.
Iran sering dianggap sebagai negara yang tidak terjebak dalam arus hegemoni Amerika Serikat sejak Revolusi 1979. Negara ini secara terbuka menunjukkan posisi yang berlawanan dengan kebijakan Barat, suatu sikap langka yang jarang dilakukan oleh negara lain. Hal ini menjadikan Iran sebagai anomali dalam tatanan politik global.
Peristiwa wafatnya Khamenei bukanlah akhir dari ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel. Sebaliknya, peristiwa ini justru membuka babak baru yang berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan tersebut. Dilaporkan bahwa Khamenei gugur dalam serangan militer gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Serangan udara besar-besaran melanda kompleks kepemimpinan Khamenei di Teheran, termasuk Beit Rahbari, yang merupakan pusat komando dan kediamannya.
Pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan atas kematian pemimpin yang telah memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade. Dalam wawancaranya, Adi Suryadi Culla menyatakan bahwa posisi Iran dalam sejarah politik global telah melampaui perjalanan sejak Revolusi Islam 1979, ketika kepemimpinan Mohammad Reza Pahlavi berakhir dan digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Adi mengungkapkan bahwa ke depan, respons dunia Islam terhadap kematian Khamenei masih menjadi proyeksi yang belum bisa dipastikan, terutama dalam hal solidaritas. Ia juga menyoroti struktur politik dan ketatanegaraan Iran yang bertumpu pada konsep Wilayat al-Faqih, sistem pemerintahan yang berpijak pada imamah dengan basis kultural dan keagamaan Syiah yang kuat.
Meskipun wafatnya Khamenei menjadi tantangan bagi sistem pemerintahan Iran, Adi menilai bahwa kelembagaan tersebut tetap kokoh karena telah dijalankan hampir setengah abad. “Pemimpin puncak spiritual bisa saja meninggal atau tergantikan, tetapi kelembagaan itu sendiri masih sangat kokoh,” ujarnya.
Dari sisi internasional, Adi menyatakan bahwa AS tidak hanya menghadapi kesulitan, tetapi juga berpotensi memperpanjang tekanannya terhadap Iran. Tujuan lama lawan politik Iran bukan hanya mengincar figur Khamenei, tetapi juga para aktor mullah dan kelembagaan kepemimpinan clerical yang telah mengakar dalam sistem pemerintahan Iran berdasarkan doktrin wilayat al-faqih.
Adi memprediksi bahwa dalam waktu dekat, aksi AS akan terus berlanjut, dan ketegangan tidak akan mereda meski Khamenei telah wafat. Alasannya adalah kebijakan Iran yang bertumpu pada ideologi yang luas, termasuk sikap keras terhadap Israel terkait isu Palestina serta posisi anti-Barat yang sudah lama dianut.
Di sisi domestik, Adi menilai potensi ketegangan dalam negeri belum akan selesai. Meskipun upaya kelompok anti-Khamenei yang didukung AS dan Israel sulit menggoyahkan pemerintahan Iran karena kuatnya sistem kelembagaan negara, wafatnya Khamenei dapat menjadi pemicu pergerakan internal yang semakin intensif.
“Potensi pergerakan di dalam negeri kemungkinan akan terjadi, meski tidak mudah. Meninggalnya Khamenei setidaknya menjadi pemantik yang memperkuat gerakan internal yang selama ini sudah tumbuh,” tutup Adi.





