Bupati Ketapang Tutup Gawai Adat Bejujokng XV, Kembangkan Budaya Dayak

Img 20230718 140940 1
Img 20230718 140940 1

Penutupan Gawai Adat Bejujokng XV di Desa Gema

Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, secara resmi menutup rangkaian Gawai Adat Bejujokng XV yang berlangsung di Desa Gema, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh dan masyarakat dari berbagai wilayah.

Kehadiran para tamu penting seperti Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang, Wakil Ketua DAD Kabupaten Ketapang, unsur Forkopimcam, kepala perangkat daerah, camat, kepala desa, serta tokoh adat, agama, dan pemuda menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap acara tahunan ini.

Dalam sambutannya, Alexander Wilyo mengajak masyarakat untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Jubata/Duwata Perimbang Alam Bumi) atas hasil panen padi yang melimpah. Ia menyebut tradisi syukuran panen sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Dayak di Ketapang.

“Tradisi bersyukur atas panen padi ini hampir merata di seluruh wilayah Ketapang. Ini menunjukkan kedekatan masyarakat Dayak dengan alam dan leluhur,” ujar Alex. Menurutnya, tradisi gawai bukan sekadar perayaan, tetapi bagian dari identitas dan nilai luhur masyarakat Dayak yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Ia menegaskan bahwa konsistensi masyarakat Desa Gema dalam menyelenggarakan Gawai Adat Bejujokng hingga tahun ke-15 patut diapresiasi. Pelaksanaan gawai dari tahun ke tahun semakin baik dan kini telah setara dengan pelaksanaan gawai tingkat kabupaten.

Di tengah arus modernisasi, Alex juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri dan identitas budaya. Ia mengajak masyarakat untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi, budaya, dan politik, serta mampu mengelola kekayaan alam demi kesejahteraan bersama.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya, Alex mengungkapkan rencana pembangunan miniatur rumah betang atau rumah adat di Desa Gema. Ia meminta agar penyusunan detail engineering design (DED) dapat disiapkan tahun ini, sehingga pembangunan dapat dimulai pada tahun berikutnya secara gotong royong oleh seluruh desa di Kecamatan Simpang Dua.

Menutup sambutannya, Alex berharap Gawai Adat Bejujokng dapat terus dilestarikan sebagai kekuatan budaya dan identitas masyarakat Dayak di Kabupaten Ketapang.

Pentingnya Pelestarian Budaya Dayak

Gawai Adat Bejujokng tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi wadah untuk melestarikan tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal. Tradisi ini mencerminkan hubungan erat antara masyarakat Dayak dengan alam dan leluhur mereka. Melalui acara seperti ini, generasi muda diajarkan untuk menghargai warisan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Selain itu, Gawai Adat Bejujokng juga menjadi sarana untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di antara masyarakat. Berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, agama, dan pemuda, saling berkolaborasi dalam penyelenggaraan acara ini. Hal ini membuktikan bahwa budaya tidak hanya menjadi milik kalangan tertentu, tetapi menjadi milik seluruh komunitas.

Rencana Pembangunan Rumah Betang

Salah satu langkah konkret yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Ketapang adalah rencana pembangunan miniatur rumah betang di Desa Gema. Rumah betang merupakan simbol budaya Dayak yang memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya miniatur ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada.

Alex Wilyo meminta agar penyusunan detail engineering design (DED) segera dilakukan pada tahun ini. Dengan demikian, pembangunan bisa dimulai pada tahun berikutnya secara gotong royong oleh seluruh desa di Kecamatan Simpang Dua. Proses ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi pelestarian budaya, tetapi juga akan menjadi daya tarik wisata yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Harapan untuk Masa Depan

Bupati Ketapang berharap Gawai Adat Bejujokng dapat terus dilestarikan sebagai kekuatan budaya dan identitas masyarakat Dayak di Kabupaten Ketapang. Dengan adanya upaya-upaya pelestarian budaya, diharapkan generasi penerus dapat memahami dan menjaga warisan leluhur mereka.

Selain itu, keberlanjutan acara ini juga menjadi indikator keberhasilan program pemerintah dalam mendukung kebudayaan lokal. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, harapan besar tercipta sebuah lingkungan yang harmonis dan penuh nilai-nilai budaya.

Pos terkait