BYAN Siapkan Dana Capex US$300 Juta Tahun Ini

Aa1xtoxn
Aa1xtoxn



JAKARTA — Perusahaan tambang batu bara milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), mengalokasikan belanja modal sebesar US$200 juta hingga US$300 juta pada tahun 2026. Nilai tersebut setara dengan Rp3,38 triliun hingga Rp5,07 triliun berdasarkan kurs Rp16.916 per dolar AS.

Berdasarkan data yang dirilis oleh perseroan, BYAN menghabiskan belanja modal sebesar US$181,7 juta pada tahun 2025. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan anggaran capex yang dialokasikan pada tahun sebelumnya, yaitu sebesar US$399,2 juta.

Dalam pedoman yang dikeluarkan oleh manajemen BYAN, disebutkan bahwa belanja modal untuk tahun 2026 akan berkisar antara US$200 juta hingga US$300 juta. Pedoman ini juga mencakup target indikator keuangan dan operasional yang cukup luas.

Pada 2026, BYAN menargetkan pendapatan sebesar US$1,8 miliar hingga US$3,8 miliar. Sebagai perbandingan, pendapatan yang diraih BYAN pada tahun 2024 mencapai US$3,42 miliar, turun 0,55% dari US$3,44 miliar pada tahun sebelumnya.

Di sisi operasional, perseroan menargetkan produksi batu bara sebesar 39 juta hingga 76 juta ton pada 2026. Sementara itu, volume penjualan diproyeksikan berada di kisaran 39 juta hingga 78 juta ton.

BYAN juga memperkirakan rata-rata biaya tunai produksi batu bara sekitar US$36 hingga US$42 per ton. Selain itu, rasio pengupasan tanah (strip ratio) diperkirakan berkisar antara 4,8 hingga 5,2 kali.

Untuk harga jual rata-rata, BYAN menyatakan bahwa targetnya sebesar US$46 hingga US$48 per ton pada 2026. Pada tahun 2025, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara BYAN turun dari US$61,3 per ton pada 2024 menjadi US$48,4 per ton.

Volume penjualan batu bara BYAN pada 2025 meningkat sebesar 25,97% secara year-on-year (YoY), dari 56,2 juta ton pada 2024 menjadi 70,8 juta ton sepanjang 2025. Pangsa pasar utama BYAN meliputi China sebesar 32%, Indonesia 26%, Filipina 19%, India 8%, serta Malaysia dan Vietnam masing-masing 4%.

Peningkatan penjualan ini didorong oleh kenaikan produksi batu bara yang mencapai 19,5% menjadi 68 juta ton pada 2025, naik dari 56,9 juta ton pada tahun sebelumnya.

Faktor Pendukung Kinerja BYAN

Beberapa faktor yang memengaruhi kinerja BYAN antara lain:

Stabilitas pasokan batu bara dari lokasi tambang yang sudah terbentuk

Penyesuaian strategi pemasaran untuk menjaga pangsa pasar di negara-negara utama

* Efisiensi operasional yang terus ditingkatkan untuk mengurangi biaya produksi

Selain itu, BYAN juga fokus pada pengembangan infrastruktur dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Hal ini diharapkan dapat mendukung target-target yang telah ditetapkan dalam rencana bisnis jangka panjang.

Tantangan yang Dihadapi

Meski ada peningkatan volume penjualan, BYAN tetap menghadapi tantangan seperti volatilitas harga batu bara di pasar global. Fluktuasi harga ini bisa memengaruhi laba perseroan, terutama jika permintaan dari pasar utama mengalami penurunan.

Selain itu, perusahaan juga harus menghadapi regulasi lingkungan yang semakin ketat. BYAN perlu memastikan bahwa operasionalnya tetap sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku.

Kesimpulan

Dengan rencana belanja modal yang realistis dan target kinerja yang fleksibel, BYAN berupaya untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan perusahaan di tengah kondisi pasar yang tidak pasti. Dengan fokus pada efisiensi dan inovasi, BYAN berharap dapat terus bersaing di industri batu bara yang kompetitif.

Pos terkait