Inflasi Tahunan di NTB Mencapai 5,37 Persen pada Februari 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (y-on-y) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada bulan Februari 2026 terhadap Februari 2025 sebesar 5,37 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan inflasi pada Februari 2025 yang mencapai -0,01 persen.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima dengan angka sebesar 6,40 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Sumbawa sebesar 4,88 persen. Hal ini menunjukkan perbedaan tingkat inflasi antar wilayah di NTB.
Inflasi yang terjadi di NTB disebabkan oleh kenaikan harga berbagai komoditas. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Februari 2026 mencapai 111,49, yang mencerminkan kenaikan harga secara umum. Beberapa komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi antara lain:
- Cabai rawit merah: menyumbang inflasi sebesar 0,35 persen
- Emas perhiasan: menyumbang inflasi sebesar 0,21 persen
- Udang basah: menyumbang inflasi sebesar 0,08 persen
- Daging ayam ras: menyumbang inflasi sebesar 0,07 persen
- Transportasi udara: menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen
Selain itu, dari sisi kelompok pengeluaran, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi salah satu sektor yang paling besar menyumbang inflasi, dengan kontribusi sebesar 2,10 persen. Sementara itu, perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut berkontribusi sebesar 1,41 persen.
Jika dilihat dari perbandingan bulanan, inflasi pada Februari 2026 meningkat dibandingkan Januari 2026 yang hanya sebesar 0,27 persen. Pada Februari 2026, inflasi naik menjadi 0,84 persen. Penyebab kenaikan tersebut terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang 0,52 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang menyumbang 0,23 persen.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Beberapa faktor dapat memicu kenaikan harga komoditas yang berdampak pada inflasi. Misalnya, kenaikan harga cabai rawit merah sering kali terkait dengan musim tanam atau kondisi cuaca yang tidak ideal. Sedangkan emas perhiasan bisa mengalami kenaikan karena permintaan pasar yang meningkat atau kebijakan pemerintah terkait pajak.
Transportasi udara juga menjadi faktor penting dalam kenaikan inflasi, terutama jika tarif penerbangan meningkat akibat kenaikan biaya operasional atau permintaan yang tinggi. Selain itu, kenaikan harga daging ayam ras dan udang basah bisa dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan dan biaya produksi.
Dampak Inflasi terhadap Masyarakat
Inflasi yang tinggi dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok seperti makanan dan transportasi bisa menyebabkan tekanan ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu melakukan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan kesejahteraan masyarakat.
Perkembangan Inflasi di NTB
Secara keseluruhan, inflasi di NTB terus mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Meskipun pada Februari 2026 inflasi meningkat, hal ini harus diimbangi dengan kebijakan yang tepat agar tidak membahayakan perekonomian daerah. Dengan pemantauan yang baik dan respons yang cepat, diharapkan inflasi dapat dikendalikan sehingga stabil dan tidak memberikan dampak negatif yang berkelanjutan.





