Profil Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun
Emha Ainun Nadjib, yang lebih dikenal dengan nama panggilan Cak Nun, kembali menjadi sorotan setelah prediksi mengenai kemungkinan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran muncul kembali dalam perbincangan publik. Prediksi ini disampaikan oleh Cak Nun dalam sebuah forum pada tahun 2012, jauh sebelum insiden tersebut benar-benar terjadi.
Cak Nun dikenal sebagai ulama sekaligus budayawan yang memiliki pandangan kritis terhadap berbagai isu sosial, budaya, dan kemanusiaan. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib dan juga akrab disapa Mbah Nun.
Dalam berbagai bidang, Cak Nun menunjukkan keahlian multidisiplin. Ia aktif sebagai seniman, penyair, sastrawan, penulis, filsuf, cendekiawan, pemikir Islam, hingga pekerja sosial. Berbagai bidang yang ia geluti meliputi sastra, teater, tasawuf, tafsir, filsafat, musik, pendidikan, kesehatan, hingga isu-isu keislaman.
Cak Nun adalah anak keempat dari 15 bersaudara. Ia lahir pada tanggal 27 Mei 1953. Pernikahannya dengan Neneng Suryaningsih pada tahun 1978 berakhir pada 1985. Setelah itu, ia menikah dengan Novia Kolopaking pada tahun 1997. Dari pernikahannya tersebut, Cak Nun dikaruniai lima orang anak, yaitu Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, dan Anayallah Rampak Mayesha.
Riwayat Pendidikan Cak Nun
Pendidikan dasar Cak Nun ditempuh di Jombang dan diselesaikan pada tahun 1965. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Muhammadiyah di Yogyakarta. Setelah itu, Cak Nun sempat menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, meskipun tidak menyelesaikan pendidikannya di sana.
Ia keluar dari Gontor setelah memimpin aksi demonstrasi terhadap kebijakan pimpinan pondok yang menurutnya kurang tepat. Usai meninggalkan Gontor, Cak Nun kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta hingga lulus pada tahun 1971.
Setelah lulus SMA, Cak Nun sempat tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, pendidikannya di perguruan tinggi hanya berlangsung hingga semester pertama.
Jejak Karier dan Aktivitas Cak Nun
Dalam perjalanan hidupnya, Cak Nun pernah menjalani kehidupan menggelandang selama sekitar lima tahun, dari 1970 hingga 1975. Pada masa tersebut, ia banyak belajar sastra dari sosok sufi misterius yang sangat ia kagumi, Umbu Landu Paranggi, yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupannya.
Karier jurnalistik Cak Nun dimulai pada tahun 1970 sebagai pengasuh rubrik sastra di Harian Masa Kini, Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai wartawan dan redaktur di media yang sama hingga 1976.
Selain aktif menulis puisi dan kolom di berbagai media, Cak Nun juga telah menghasilkan sekitar 30 buku esai. Di bidang seni pertunjukan, ia memimpin Teater Dinasti Yogyakarta serta grup musik Kiai Kanjeng, yang hingga kini masih aktif.
Beragam karya teater dan sastra lahir dari tangan Cak Nun, di antaranya Geger Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, Keajaiban Lik Par, dan Mas Dukun, yang banyak mengangkat kritik sosial dan politik.
Ia juga terlibat dalam berbagai pementasan besar bersama Teater Salahudin, serta aktif mengikuti forum internasional seperti lokakarya teater di Filipina dan International Writing Program di Amerika Serikat.
Pada era 1990-an, Cak Nun menggagas forum Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, sebuah ruang dialog budaya dan kemanusiaan yang terbuka dan nonpartisan. Hingga kini, ia masih rutin berkeliling bersama Kiai Kanjeng dan komunitas Padhangmbulan.
Dalam setiap forum, Cak Nun kerap mengajak masyarakat membongkar cara berpikir lama, memperbaiki pola komunikasi, serta mencari solusi atas persoalan sosial secara kultural dan spiritual.
Meski sering mengisi pengajian, Cak Nun menolak disebut sebagai kiai. Ia lebih nyaman dikenal sebagai seniman dan pemikir, bersama sang istri Novia Kolopaking.
Isu pluralisme menjadi salah satu topik yang kerap ia angkat. Menurut Cak Nun, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.
“Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” kata Emha Ainun Najib seperti dimuat dalam biografiku.com.
Pandangan-pandangannya kerap dianggap menyejukkan, terutama di tengah situasi sosial-politik yang memanas. Menjelang runtuhnya Orde Baru, Cak Nun bahkan sempat dimintai pandangan oleh Presiden Soeharto. Ia disebut turut mendorong Soeharto untuk bersedia mengakhiri masa jabatannya.
Kini, Cak Nun masih aktif mengisi berbagai forum seperti Kenduri Cinta, Macapat Syafa’at, dan Padhangmbulan, serta terus menulis melalui berbagai media, termasuk situs pribadinya.
Ramalan Serangan AS-Israel ke Iran
Selain kiprahnya di bidang budaya dan sosial, Cak Nun juga kembali diperbincangkan karena pernyataannya pada 2012 yang dianggap sebagai prediksi atas konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan saat ia menjadi pembicara di Masjid Raya Klaten pada 22 Februari 2012.
“Suatu hari nanti, Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika,” kata Cak Nun dikutip dari akun Instagram @lambe_turah.
Ia juga menyampaikan pandangannya terkait posisi Arab Saudi dalam konflik tersebut, serta mempertanyakan sikap Indonesia.
“Nanti Arab Saudi bisa dipastikan akan membela Israel. Pertanyaannya untuk Indonesia, Indonesia bela mana? Bela Iran apa bela Israel?” ucapnya lagi.
“Ah kan kene kene mesti kerengan dewe. Engge Pak, Separuh melok Iran, separuh melok Israel uta ora melo sopo-sopo. Wong yo ora mudeng gitu,” tambahnya dalam bahasa Jawa.
Cak Nun berharap Indonesia mampu bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi, baik oleh pengaruh luar maupun akibat minimnya pemahaman di dalam negeri.
“Mudah-mudahan Klaten harus bisa antisipasi terhadap provokasi dari luar maupun dari kebodohan dari dalam,” tuturnya.





