Cara Trump Lacak Khamenei, Naser Marah Ajak Lawan AS-Israel

96166415  96164592 039636124 1 1
96166415 96164592 039636124 1 1

Pemimpin Tertinggi Iran Tewas dalam Serangan Udara AS-Israel

Grand Ayatollah Naser Makarem Shirazi, seorang ulama Syiah terkemuka, telah menyatakan bahwa jihad melawan Amerika Serikat dan Israel adalah kewajiban bagi umat Muslim di seluruh dunia. Pernyataan ini datang setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilakukan dalam serangan udara gabungan AS dan Israel.

Pembunuhan tersebut terjadi pada 28 Februari, ketika pasukan militer dari kedua negara menyerang pusat kekuasaan Iran. Serangan ini memicu duka cita besar di kalangan rakyat Iran, yang berkumpul di Lapangan Enghelab di Teheran pada 1 Maret untuk memberikan penghormatan kepada pemimpin mereka. Operasi tersebut didasarkan pada pengawasan jangka panjang dan kolaborasi intelijen antara AS dan Israel.

Bagaimana AS dan Israel Menemukan Lokasi Khamenei?

Operasi penyerangan ini berhasil karena kombinasi berbagai teknik dan strategi yang sangat canggih. Berikut beberapa poin penting yang membantu AS dan Israel mengidentifikasi lokasi pasti Ayatollah Ali Khamenei:

  • Pengawasan Jangka Panjang

    Badan Intelijen Pusat (CIA) telah mengamati pergerakan dan pola keamanan Khamenei selama beberapa bulan. Hal ini memungkinkan badan intelijen untuk mencapai pemahaman “dengan akurasi tinggi” tentang kebiasaan dan kemungkinan lokasinya.

  • Momen Kritis

    Para pejabat intelijen menemukan bahwa sebuah pertemuan tingkat tinggi yang tidak biasa yang melibatkan Khamenei bersama para pemimpin politik dan militer senior dijadwalkan pada pagi hari Sabtu, 28 Februari 2026.

  • Teknologi Pelacakan Tingkat Lanjut

    Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “Sistem Pelacakan yang Sangat Canggih” digunakan untuk melacak lokasi Khamenei, memastikan bahwa ia tidak dapat lolos dari deteksi setelah target dikonfirmasi.

  • Kolaborasi Intelijen

    CIA memberikan intelijen “berakurasi tinggi” ini kepada Israel. Akibatnya, kedua negara memutuskan untuk menggeser serangan yang direncanakan dari malam hari ke siang hari (sekitar pukul 9:40 pagi waktu Teheran) untuk memanfaatkan kerangka waktu spesifik ketika semua target berkumpul di kompleks kepemimpinan di pusat Teheran.

  • Pengenalan Target

    Petugas intelijen mengidentifikasi tiga pertemuan serentak yang terjadi di kantor kepresidenan Iran, Pemimpin Tertinggi, dan Dewan Keamanan Nasional.

Reaksi Internasional

Presiden AS Donald Trump mengumumkan meninggalnya Khamenei dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Sabtu malam, menyebut diktator Islamis itu sebagai salah satu orang paling jahat dalam sejarah. Ia juga memuji operasi tersebut, dengan menyatakan bahwa serangan militer AS akan membuka jalan bagi pemberontakan di Iran.

Trump juga menyatakan bahwa orang-orang yang tergabung dalam Garda Revolusi Islam, bersama dengan personel militer, polisi, dan keamanan lainnya, saat ini akan menerima kekebalan hukum. Namun, ia memperingatkan bahwa mereka “hanya akan menghadapi kematian!” di masa depan.

Perkembangan Selanjutnya

Menjelang serangan AS dan Israel pada hari Sabtu, Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menilai bahwa bahkan jika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi tersebut, ia kemungkinan akan digantikan oleh tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menurut dua sumber yang diberi informasi tentang intelijen tersebut.

Laporan badan intelijen tersebut tidak menyimpulkan skenario apa pun dengan pasti, kata sumber-sumber yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah intelijen. Presiden AS Donald Trump selama beberapa minggu terakhir telah memberi sinyal bahwa AS tertarik untuk melihat perubahan rezim di Iran, tetapi belum memberikan rincian apa pun tentang pemikiran Washington mengenai siapa yang dapat memimpin negara tersebut.

Serangan Militer dan Negosiasi Nuklir

Serangan AS dan Israel ini terjadi setelah berminggu-minggu pertimbangan di dalam pemerintahan AS tentang apakah akan menyerang Iran menyusul protes mematikan yang meletus di sana pada bulan Desember. Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat AS telah berupaya mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran dalam upaya untuk mencegah intervensi.

Dalam sebuah pengarahan pekan lalu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada para anggota parlemen terkemuka yang dikenal sebagai Gang of Eight bahwa operasi AS kemungkinan akan dilanjutkan. Akan tetapi Trump dapat berubah pikiran, terutama jika negosiasi nuklir berhasil. Pembicaraan di Jenewa tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

Rubio memberi tahu Gang of Eight pada Jumat malam bahwa operasi untuk menyerang Iran kemungkinan akan dimulai dalam beberapa jam berikutnya. Akan tetapi mengatakan Trump masih bisa berubah pikiran, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.


Pos terkait