Celios: Impor 105.000 Pikap India Ancam Ekonomi Rp39 Triliun

Aa1wjv48
Aa1wjv48

Rencana Impor Mobil Pikap dari India Dinilai Berpotensi Merugikan Ekonomi Nasional

Pengimporan 105.000 unit mobil pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara mendapat perhatian serius dari lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios). Lembaga ini menyoroti potensi kerugian ekonomi yang bisa terjadi akibat rencana tersebut, termasuk kemungkinan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor industri otomotif nasional.

Ekonom Celios, Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa kebijakan impor kendaraan niaga ini tidak sesuai dengan arah pengembangan industri dalam negeri. Menurutnya, pengembangan industri harus mampu menyerap tenaga kerja dan memperkuat kemandirian ekonomi, bukan justru meningkatkan ketergantungan pada impor.

“Dari awal pengembangan industri ini sangat dibutuhkan, satu sisi menyerap tenaga kerja, mengembangkannya. Sisi lainnya, ini terkait ketergantungan dari impor,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan tim Celios, kebijakan impor ini diperkirakan akan memicu kerugian hingga Rp39 triliun dari segi produk domestik bruto (PDB) dan pendapatan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya efek pengganda (multiplier effect) yang seharusnya tercipta jika pengadaan kendaraan dilakukan melalui industri otomotif dalam negeri.

Dampak pada Industri Otomotif Domestik

Industri otomotif domestik didukung oleh rantai pasok yang panjang dan terintegrasi, mulai dari manufaktur perakitan, industri komponen, jaringan distribusi, bengkel, hingga ritel suku cadang. Jika kebutuhan kendaraan niaga untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih seluruhnya dipenuhi melalui impor dari India, maka potensi kehilangan tenaga kerja di dalam negeri dapat mencapai 330.000 orang.

Selain itu, pendapatan pekerja diperkirakan tergerus hingga Rp17,38 triliun, seiring hilangnya aktivitas produksi dan berkurangnya perputaran ekonomi di sektor otomotif nasional. “Dengan asumsi jumlah unit dari dalam negeri berkurang sama seperti jumlah impor 105.000 unit, dan dengan harga acuan dalam negeri sebesar Rp197 juta untuk tipe Gran Max tertinggi,” katanya.

Perlu Prioritas pada Industri Dalam Negeri

Bhima menegaskan bahwa rencana impor ini melalui program dan anggaran negara. Oleh karena itu, industri dalam negeri seharusnya mendapatkan prioritas. PT Agrinas Pangan Nusantara, yang merupakan bagian dari Danantara, harus meninjau kembali rencana tersebut.

“Apalagi saat ini industri otomotif yang telah lama dibangun itu, tengah mengalami penurunan signifikan. Ribuan tenaga kerja terancam, terutama dari komponen lokal,” tambahnya.

Sebelumnya, PT Agrinas Pangan Nusantara menyatakan akan mengimpor sebanyak 105.000 unit pikap dan truk ringan dari India. Sebanyak 35.000 unit pikap dari Mahindra, 35.000 unit Yodha Pikap, dan 35.000 unit truk T.7 dari Tata Motors. Seluruh unit bakal diperuntukan untuk operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Rekomendasi dan Tindakan Lanjutan

Celios merekomendasikan agar pemerintah dan pelaku bisnis lebih memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri untuk membangun ketahanan ekonomi. Dengan adanya kebijakan yang mendukung industri otomotif, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa kebijakan impor tidak hanya membawa manfaat jangka pendek, tetapi juga tidak merusak fondasi industri yang sudah ada. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan Indonesia dapat menjaga kemandiriannya dalam sektor transportasi dan otomotif.

Pos terkait