Perjuangan Chelsea Olivia dalam Menghadapi Gangguan Hormon
Chelsea Olivia, artis ternama di Indonesia, baru-baru ini membagikan kisah perjuangannya melawan gangguan hormon yang mengakibatkan pendarahan berkepanjangan. Meskipun sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter, kondisi tersebut membuatnya terpaksa menjalani empat operasi kecil untuk memperbaiki kondisi organ reproduksinya.
Pendarahan yang dialaminya dimulai pada bulan Januari saat sedang menstruasi, tepat setelah pulang dari Jepang. Awalnya ia mengira hal itu wajar karena kelelahan setelah liburan. Namun, pendarahan tidak berhenti dan berlangsung selama lebih dari dua bulan. Akhirnya, ia memutuskan untuk segera mengunjungi dokter kandungan.
Pemeriksaan dilakukan, termasuk cek hormon dan pemeriksaan lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa rahimnya sehat dan banyak telur ditemukan. Ia hanya diberi obat hormon sebagai penyeimbang agar pendarahan berhenti. Sayangnya, konsumsi obat tersebut tidak memberikan hasil yang diharapkan.
Karena kondisinya tetap tidak membaik, Chelsea mencoba berpindah ke dokter penyakit dalam. Pemeriksaan darah lengkap juga dilakukan, namun tidak ditemukan masalah serius. Hanya ada beberapa indikator yang rendah. Ia kembali ke dokter kandungan untuk melepas IUD, dan hasilnya kembali menunjukkan bahwa semua kondisi dalam keadaan baik.
Namun, pertanyaan besar tetap muncul: mengapa kondisi tersebut terus berlangsung? Ia telah mengonsumsi empat jenis obat dan berkonsultasi dengan tiga dokter, tetapi kondisi tubuhnya tidak stabil. Kadang baik, kadang tidak, sehingga membuat aktivitas sehari-harinya menjadi sulit.
Selama masa gangguan haid, Chelsea mengalami perubahan fisik seperti perut membengkak, kram, lemas, dan pusing. Berat badannya juga meningkat hingga 5 kg. Hal ini membuatnya semakin khawatir dan memutuskan untuk mencari opini kedua di Negeri Jiran, yaitu di Island Hospital.
Di sana, ditemukan adanya lingkaran putih di bagian leher rahim. Chelsea sangat penasaran dengan penyebab adanya lingkaran putih tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap siklus menstruasinya. Dokter yang menangani, Dr. Low Kah Pin, menjelaskan bahwa tidak ada yang bisa memastikan penyebab kondisi tersebut. Ketidakseimbangan hormon disebut bisa menyerang siapa saja, terutama wanita yang sudah melahirkan.
“Jadi pertanyaan kenapa dok?? Apakah pola makanku yang salah?? Kurang olahraga?? Atau apa?? Jawabannya 1… Tidak ada yang bisa memastikan, karena imbalance hormon bisa terjadi pada semua orang (apalagi yang sudah melahirkan) dan faktor genetik-ku. Intinya tidak perlu khawatir, besok akan kita bereskan dengan prosedur small surgery,” jelas Chelsea.
Tips untuk Wanita dalam Merawat Kesehatan Reproduksi
Setelah melewati proses pemeriksaan dan operasi, Chelsea Olivia memberikan saran penting bagi para wanita. Ia menekankan pentingnya melakukan check up reproduksi secara rutin, setidaknya satu tahun sekali. Tes hormon juga sangat dianjurkan untuk dilakukan.
“Buat para wanita harus rajin check up yahh (papsmear, check up darah komplit 1 tahun 1x). Ini selalu aku lakukan, dan jika kamu merasa badanmu tidak bersahabat terus menerus, ada baiknya langsung cari second opini ke profesional dan test Hormon (ini sangat membantu). Catat tanggal mens dan juga selesainya. Jadi kalau ada kejadian seperti ini aku gampang untuk track lebih lanjut!! Lebih cepat lebih baik.”




