Tindakan China dalam Menghadapi Eskalasi Konflik Iran, AS, dan Israel
China telah mengambil langkah-langkah tegas dalam merespons eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Pemerintah Negeri Tirai Bambu secara terbuka mengecam serangan militer yang dilakukan oleh Washington dan Tel Aviv, yang berujung pada kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi pada Sabtu (28/2/2026).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Beijing memandang tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam komunikasi telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyebut pembunuhan terhadap pemimpin negara berdaulat sebagai tindakan tidak bisa diterima. Ia juga menolak segala bentuk dorongan perubahan rezim melalui kekuatan militer.
Peringatan Tegas dari Beijing
Media pemerintah China bahkan menyebut serangan tersebut sebagai bentuk “politik kekuasaan” dan praktik hegemoni yang bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pernyataan ini menjadi sinyal tegas bahwa Beijing melihat tindakan AS dan Israel sebagai ancaman terhadap stabilitas regional dan global.
Selain itu, China mendesak penghentian segera operasi militer serta mengajak semua pihak kembali ke meja perundingan. Hal ini menunjukkan bahwa Beijing tidak hanya peduli terhadap keamanan wilayah tetapi juga terhadap stabilitas pasar energi dunia.
Kepentingan Strategis China dalam Energi Global
Peringatan China bukan tanpa alasan. Negara itu merupakan pembeli terbesar minyak Iran. Data firma analitik Kpler pada 2025 menunjukkan lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dikirim ke China. Sepanjang tahun lalu, rata-rata 1,38 juta barel per hari minyak Iran mengalir ke Negeri Tirai Bambu, sekitar 13 persen dari total impor laut China.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir, terlihat adanya penyesuaian pasokan. Pembongkaran minyak Iran di pelabuhan China bulan ini tercatat turun menjadi sekitar 1,13 juta barel per hari. Sementara impor minyak Rusia justru meningkat signifikan. Perubahan ini terjadi di tengah ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia.
Jika blokade benar terjadi, dampaknya terhadap harga energi global bisa sangat besar. Dengan posisi sebagai mitra dagang utama Iran sekaligus kekuatan global, sikap tegas Beijing memperlihatkan bahwa konflik ini bukan lagi sekadar persoalan regional.
Perlindungan Warga China di Wilayah Konflik
Di tengah situasi yang memburuk, Beijing juga bergerak melindungi warganya. Kedutaan Besar China di Israel menyarankan warga negara China untuk pindah ke wilayah lebih aman atau meninggalkan negara itu melalui perbatasan Taba menuju Mesir. Sementara warga China di Iran diminta segera keluar melalui jalur darat menuju Azerbaijan, Armenia, Turkiye, atau Irak.
Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi sebagian warganya mengalami luka dan ada yang terjebak akibat serangan. Pemerintah juga mengeluarkan peringatan perjalanan agar warga tidak bepergian ke kawasan konflik.
Dampak pada Sektor Transportasi
Dampak konflik merambat ke sektor transportasi. Maskapai berbasis Hong Kong, Cathay Group, menghentikan sementara operasinya di Timur Tengah, termasuk penerbangan ke Dubai dan Riyadh serta layanan kargo melalui Bandara Internasional Al Maktoum. Sejumlah rute dialihkan untuk menghindari wilayah udara yang terdampak.
Dengan posisi sebagai mitra dagang utama Iran sekaligus kekuatan global, sikap tegas Beijing memperlihatkan bahwa konflik ini bukan lagi sekadar persoalan regional. China kini secara terbuka memperingatkan Washington dan Tel Aviv: eskalasi lebih lanjut bisa mengguncang stabilitas global, terutama pasar energi dunia.





