Tindakan Militer AS-Israel dan Reaksi China
Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah berujung pada kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk China yang secara konsisten menentang penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional.
Pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB di New York, Sabtu sore waktu setempat, perwakilan tetap China untuk PBB, Fu Cong, menyampaikan kegeraman Beijing atas tindakan tersebut. Ia menilai aksi militer ini sebagai langkah yang tidak terduga, terutama karena dilakukan saat proses negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran sedang berlangsung.
“China secara konsisten menentang dan mengutuk penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional. Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati,” ujar Fu Cong dalam pidatonya.
China menilai serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran itu telah melewati “garis merah” perlindungan sipil dalam konflik bersenjata. Fu Cong juga mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan, dengan menekankan bahwa kekuatan militer bukanlah solusi untuk menyelesaikan sengketa internasional.
Kepentingan Ekonomi China di Teheran
Di balik kutukan keras tersebut, China memiliki kepentingan ekonomi yang sangat vital di Teheran. Berdasarkan data firma analitik Kpler tahun 2025, China merupakan pembeli minyak Iran terbesar di dunia, menyerap lebih dari 80 persen dari total minyak yang dikapalkan oleh negara tersebut.
Tahun lalu, kilang-kilang independen China, yang sering disebut sebagai “teapots”, mengimpor rata-rata 1,38 juta barel minyak Iran per hari. Hubungan mesra ini didorong oleh diskon besar-besaran yang ditawarkan Iran di tengah sanksi Barat, yang mencakup sekitar 13,4 persen dari total impor minyak laut China.
Namun, gejolak geopolitik terbaru ini tampaknya mulai menggoyang stabilitas pasokan. Data terbaru dari Kpler dan Vortexa menunjukkan adanya penurunan impor minyak Iran ke China sebesar 115.000 hingga 220.000 barel per hari pada bulan Februari dibanding bulan sebelumnya.
Pergeseran ke Rusia dan Ancaman Selat Hormuz
Ketegangan yang memuncak akibat kematian Khamenei juga memicu kekhawatiran akan blokade Selat Hormuz—jalur nadi yang dilewati hampir seperlima pasokan minyak dunia. Sebagai langkah antisipasi, China mulai mengalihkan ketergantungannya dengan meningkatkan impor minyak dari Rusia hingga mencapai 2,07 juta barel per hari bulan ini.
Sikap Negara-Negara Lain
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat melalui Duta Besarnya, Mike Waltz, bersikeras bahwa tindakan militer tersebut sah secara hukum. Senada dengan AS, Duta Besar Israel Danny Danon membela serangan udara tersebut sebagai langkah krusial untuk menghentikan ancaman eksistensional terhadap negaranya.
Sebaliknya, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengutuk keras serangan AS-Israel sebagai “kejahatan perang.” Pertemuan darurat ini sendiri digelar atas permintaan mendesak dari China, Rusia, Prancis, Bahrain, dan Kolombia guna meredam efek domino dari konflik yang kini mengancam stabilitas energi global.





