Christine Hakim menangis di peluncuran Laut Bercerita, soroti isu kemanusiaan

Aa1wyhwa
Aa1wyhwa

Laut Bercerita: Kisah Emosional yang Mengangkat Isu Kehilangan dan Kemanusiaan

Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori telah menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang memperkuat narasi tentang kehilangan, aktivisme mahasiswa, serta luka keluarga korban penculikan pada era 90-an. Sejak pertama kali diterbitkan, novel ini terus mendapat perhatian luas dan kini diadaptasi menjadi film layar lebar. Proses adaptasi ini menimbulkan reaksi emosional yang kuat, terutama saat peluncuran teaser pertamanya.

Konferensi pers yang digelar di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/2/2026), berlangsung dengan suasana yang penuh haru. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Christine Hakim tak mampu menahan air mata setelah menghadiri pemutaran teaser. Ia memerankan sosok ibu yang kehilangan anaknya dalam film ini, yang menjadi pusat dari emosi utama dalam cerita.

Karakter tersebut diperankan oleh Christine Hakim, sementara Reza Rahadian berperan sebagai Biru Laut. Dalam wawancara usai acara, Christine menyampaikan perasaannya yang sangat terbawa oleh peran tersebut. Ia mengakui bahwa emosinya sangat berat, bahkan harus mengatur napas sebelum masuk ke ruang teater.

“Sejak teaser diputar, saya merasa begitu dekat dengan luka yang dialami karakter saya,” ujarnya. “Saya bahkan hampir menangis saat melihat adegan awal.”

Peran sebagai Ibu Arya Wibisono memberi Christine pengalaman batin yang mendalam. Ia mencoba membayangkan bagaimana beratnya seorang ibu yang kehilangan anaknya dengan harapan untuk bisa bertemu kembali suatu hari nanti. Baginya, kehilangan yang dibalut harapan justru terasa lebih menyakitkan.

Christine juga menyoroti pesan kemanusiaan yang terkandung dalam film ini. Ia membandingkan isu human rights yang marak dibahas di dunia internasional dengan jarangnya pembahasan tentang human rescue. Menurutnya, hati manusia akan terluka jika harus menghadapi situasi seperti itu.

“Hati saya berat sekali bagi seorang ibu… dan kehilangan ini sebetulnya yang lebih berat karena adanya sebuah harapan,” kata Christine. Ia mempertanyakan bagaimana sesama manusia bisa dengan mudah merenggut nyawa manusia lain. Baginya, nilai kehidupan adalah hak prerogatif Tuhan yang tidak boleh diambil secara semena-mena.

Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini mengangkat latar era 90-an dengan isu penculikan dan pergerakan mahasiswa. Namun, Christine menegaskan bahwa pesan film tidak hanya terbatas pada konteks sejarah. Ia berharap penonton dapat membawa pulang refleksi tentang empati dan kasih sayang antar sesama.

Momen tangis Christine Hakim menjadi salah satu sorotan utama dalam acara peluncuran teaser. Kehadirannya menunjukkan bahwa Laut Bercerita bukan hanya sekadar film sejarah, tetapi juga kisah emosional tentang cinta, kehilangan, dan harapan yang belum usai.

Pos terkait