JAKARTA — PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) melaporkan bahwa penyaluran pembiayaan baru untuk segmen kendaraan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) mengalami perlambatan secara tahunan. Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menyampaikan bahwa pada Januari 2026, pembiayaan tersebut mencapai Rp18 miliar, turun 76,92% (year on year/YoY) dari Rp78 miliar. Angka ini berkontribusi sebesar 3,2% terhadap total penyaluran pembiayaan baru pada bulan tersebut.
“Sedangkan terhadap portofolio [aset kelolaan] CNAF, segmen LCGC mengambil porsi sebesar 7,5% [Rp1 Triliun] dari total keseluruhan portofolio [aset kelolaan] CNAF per bulan Januari 2026 ini yang sebesar Rp13,5 triliun,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (2/3/2026).
Menurutnya, kondisi ini sejalan dengan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang mencatat total penjualan wholesales LCGC turun 22% (YoY) pada Januari 2026. CNAF melihat kondisi industri otomotif saat ini mengalami tekanan yang cukup menantang.
Untuk meningkatkan pembiayaan segmen LCGC, CNAF akan terus menjalin kerja sama strategis dengan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan Group Dealer, agar memastikan ketersediaan unit kendaraan untuk nasabah CNAF dan juga fokus pada cross selling yang menyasar nasabah induk usaha yakni Bank CIMB Niaga.
“Serta di sisi lain, CNAF juga mengedepankan kecepatan dan simplifikasi proses transaksi yang didukung dengan digitalisasi sehingga dapat menjangkau nasabah dengan lebih luas,” ucap Ristiawan.
Ristiawan turut membeberkan saat ini rasio Non-Performing Finance (NPF) segmen pembiayaan LCGC di CNAF berada di atas 2%, sehingga masih dalam ambang batas wajar yang ditetapkan oleh regulator yakni 5%.
“CNAF senantiasa telah menyusun langkah preventif untuk mitigasi peningkatan risiko kredit, salah satunya dengan menerapkan selektivitas yang ketat dalam menganalisa calon nasabah yang mengajukan pembiayaan,” tegasnya.
Lebih jauh, dia optimistis bahwa kendaraan LCGC masih menarik bagi masyarakat karena pasar (market) juga sudah terbentuk. Kendati demikian, tidak dipungkiri bahwa pasar saat ini tengah digempur oleh kendaraan listrik, sehingga menjadikan preferensi konsumen akan terbagi.
“CNAF melihat kendaraan LCGC masih memiliki peluang market yang positif, tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen saja. Tentunya, CNAF merespons kondisi ini dengan tetap optimis untuk dapat menyalurkan pembiayaan bagi segmen kendaraan LCGC,” ucap Ristiawan.
Oleh karena itu, CNAF memproyeksikan pembiayaan LCGC pada 2026 akan tetap berada di jalur positif, meski dengan pertumbuhan yang cenderung melandai. Segmen LCGC dinilai masih menjadi pilihan paling terjangkau bagi pembeli pertama.
“Perlu diingat bahwa konsumen LCGC ini sangat rentan terhadap risiko kredit. Oleh karena itu, CNAF senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian melalui proses seleksi calon nasabah yang lebih ketat, langkah ini diambil guna memitigasi potensi kenaikan Non-Performing Financing [NPF],” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai koreksi penjualan LCGC lebih mencerminkan pergeseran minat konsumen ke kendaraan listrik, yang juga sudah mulai terlihat sejak semester II/2025.
“Kalau dibilang turun kan mesti dilihat mana yang naik, kan yang banyak naik mobil-mobil listrik. Ya artinya apa? Bergeser dan karena mobil listrik ini harganya juga hampir sama dengan mobil-mobil LCGC,” ungkap Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Suwandi mencontohkan, mobil Toyota Veloz Hybrid yang resmi dirilis di Indonesia pada ajang Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 atau pada November 2025 juga dia nilai cepat laku terjual.
“Memang ini karena faktor persaingan saja dan bergeser. Nah, buat di pembiayaan ya tentu yang listrik kan juga udah banyak perusahaan pembiayaan yang masuk membiayai mobil listrik. Jadi, cuma masalah geser saja,” tegasnya.





