.CO.ID, PALU,
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengingatkan masyarakat bahwa perubahan cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi pangan dan berpotensi memicu inflasi di wilayah tersebut. Menurut Wakil Gubernur Sulteng Reny A. Lamadjido, kondisi cuaca ini telah menyebabkan kenaikan harga komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras.
Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido juga menyoroti perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas akhir-akhir ini, yang turut berkontribusi pada tekanan inflasi di Sulawesi Tengah. Selain itu, ia memproyeksikan bahwa menjelang libur Idul Fitri 2026, harga tiket transportasi akan meningkat, yang bisa menjadi salah satu pemicu inflasi.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng melaporkan inflasi pada bulan Januari 2026 mencapai 0,1 persen dibandingkan Desember 2025. Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi inflasi pada Januari 2026 antara lain emas perhiasan, ikan cakalang, ikan selar, ikan ekor kuning, cumi-cumi, minyak goreng, dan ikan teri.
Adapun komoditas yang memberikan kontribusi deflasi pada bulan yang sama adalah cabai rawit, ikan lajang, cabai merah, bawang merah, bensin, beras, tomat, ikan katambo, angkutan udara, ikan kembung, dan telur ayam ras.
Inflasi Tahunan dan Faktor Penyebab
Inflasi tahunan di Sulawesi Tengah tercatat sebesar 4,55 persen pada Januari 2026 dibandingkan Januari 2025. Komoditas yang dominan memberikan kontribusi inflasi tahunan termasuk tarif listrik, emas perhiasan, beras, ikan lajang, ikan cakalang, ikan selar, bawang merah, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, dan sebagainya.
Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan kontribusi deflasi tahunan meliputi cabai rawit, tomat, bawang putih, cabai merah, baju muslim wanita, tissu, telepon seluler, bensin, blus wanita, dan parfum.
Dampak Perubahan Cuaca terhadap Produksi Pangan
Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa daerah di Sulawesi Tengah disebut-sebut berdampak langsung terhadap produksi pangan. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan pasokan komoditas pangan seperti beras, sayuran, dan produk laut. Kenaikan harga komoditas ini tidak hanya berdampak pada masyarakat umum, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi daerah.
Beberapa faktor yang diperkirakan memperparah situasi ini adalah curah hujan yang tidak menentu, banjir, serta kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah. Kondisi ini memengaruhi produktivitas pertanian dan perikanan, sehingga memicu kenaikan harga secara umum.
Peran Masyarakat dalam Stabilitas Harga
Selain cuaca, perilaku masyarakat juga turut berkontribusi pada fluktuasi harga. Misalnya, tren membeli emas secara besar-besaran akhir-akhir ini membuat permintaan untuk logam mulia meningkat, yang berdampak pada inflasi. Selain itu, peningkatan permintaan transportasi menjelang libur lebaran juga diperkirakan akan meningkatkan biaya pengangkutan, yang pada akhirnya memengaruhi harga barang dan jasa di pasar.
Upaya Pemerintah dalam Mengendalikan Inflasi
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan inflasi, termasuk koordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti BPS, dinas pertanian, dan pelaku usaha. Salah satu upaya utama adalah memastikan ketersediaan pasokan pangan yang cukup dan stabil, serta memantau perkembangan harga di pasar.
Selain itu, pemerintah juga sedang mempertimbangkan kebijakan subsidi atau pembatasan harga tertentu untuk komoditas penting agar masyarakat tetap dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Prediksi Inflasi di Masa Mendatang
Dengan adanya berbagai faktor yang memengaruhi inflasi, pemerintah memprediksi bahwa tingkat inflasi di Sulawesi Tengah akan terus bergerak naik, terutama jika kondisi cuaca tetap tidak menentu. Namun, dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan inflasi dapat dikendalikan dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah.





