Serangan Iran Menghancurkan Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Serangan besar-besaran yang dilakukan oleh Iran terhadap sejumlah pangkalan militer di kawasan Timur Tengah telah menimbulkan kekacauan besar. Serangan ini merupakan balasan atas kematian pimpinan Iran, Ayatollah Khamenei, yang memicu amukannya terhadap negara-negara yang dianggap sebagai musuh.
Beberapa jam setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, Republik Islam itu langsung meluncurkan serangan balasan. Seperti yang pernah disampaikan Khamenei sebelum meninggal, Iran berkomitmen untuk menciptakan perang regional jika kedaulatan negaranya dianggap terganggu oleh AS dan sekutu-sekutunya. Pada hari Sabtu, setelah AS-Israel melepaskan rudal ke Teheran, Iran langsung membalas dengan menyerang Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Arab.
Banyak negara Arab yang memiliki pangkalan militer AS menjadi sasaran serangan Iran. Mulai dari Bahrain, Kuwait hingga Abu Dhabi, semua mengalami dampak dari serangan tersebut. Air and Space Force Magazine merilis daftar pangkalan militer AS yang jadi target rudal Iran. Beberapa di antaranya adalah:
- Pangkalan Dukungan Angkatan Laut Bahrain
- Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar
- Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait
- Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab
- Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti di Yordania
Selain pangkalan militer, Iran juga menargetkan situs-situs sipil di seluruh Teluk dan Israel. Menurut laporan, beberapa pangkalan seperti Dukungan Angkatan Laut Bahrain, Ali Al Salem, dan Al Udeid terkena proyektil. Informasi ini didasarkan pada citra satelit dan video media sosial. Namun, belum jelas apakah ada pangkalan lain yang juga terkena dampak serangan tersebut.
Sejumlah negara di kawasan, termasuk negara-negara yang menampung pasukan Amerika, mengonfirmasi bahwa mereka telah menjadi sasaran serangan rudal dan drone skala besar. Akibat serangan tersebut, lima warga Amerika lainnya dilaporkan mengalami luka serius. CENTCOM tidak menyebutkan penyebab korban dan memperingatkan bahwa informasi yang diberikan akurat hingga pukul 09.30 Waktu Bagian Timur pada tanggal 1 Maret.
“Beberapa lainnya mengalami cedera ringan akibat pecahan peluru dan gegar otak—dan sedang dalam proses untuk kembali bertugas,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan. Operasi tempur utama terus berlanjut dan upaya respons kami sedang berlangsung.”
Presiden Donald Trump mengakui bahwa anggota militer Amerika dapat tewas ketika ia mengumumkan dimulainya Operasi Epic Fury pada awal 28 Februari. “Pemerintahan saya telah mengambil setiap langkah yang mungkin untuk meminimalkan risiko terhadap personel AS di wilayah tersebut,” kata Trump dalam pidato video yang diunggah ke media sosial.
Trump mengaku tidak segan mengorbankan prajuritnya demi mendapatkan kemenangan atas Iran. “Nyawa para pahlawan Amerika yang gagah berani mungkin akan hilang, dan kita mungkin akan mengalami korban jiwa.”





