Harga perak berhasil mempertahankan posisinya di atas angka 77 dolar AS per ons troi pada hari Kamis (19/2), setelah mengalami kenaikan sekitar 5% dalam sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi meskipun dolar AS menguat, yang disebabkan oleh data ekonomi yang kuat dari Amerika Serikat serta sinyal hawkish dari Federal Reserve (The Fed).
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar logam secara keseluruhan sedang pulih, meskipun ada tekanan dari kebijakan moneter yang lebih ketat. Risalah dari pertemuan The Fed pada Januari 2026 menunjukkan adanya perbedaan pendapat di antara para pembuat kebijakan. Beberapa di antaranya mengisyaratkan bahwa pemotongan suku bunga mungkin akan dilakukan jika inflasi terus menurun. Namun, beberapa pihak lain lebih memilih untuk menjaga suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Mereka juga menyampaikan kemungkinan pengetatan lebih lanjut jika inflasi tetap stabil atau bahkan meningkat.
Para pedagang mulai mengurangi ekspektasi mereka terhadap pemotongan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini. Meskipun demikian, mereka masih memprediksi bahwa akan ada dua pengurangan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada ketidakpastian, pasar tetap optimis terhadap prospek suku bunga yang lebih rendah di masa mendatang.
Selain itu, harga perak dan logam mulia lainnya semakin didukung oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Khususnya, AS telah meningkatkan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran akan potensi konflik dengan Iran. Selain itu, pembicaraan perdamaian antara Ukraina dan Rusia juga berakhir tanpa adanya terobosan signifikan. Peristiwa-peristiwa ini memberikan dorongan tambahan bagi permintaan akan aset safe-haven seperti emas dan perak.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Perak
-
Pertemuan The Fed
Risalah dari pertemuan The Fed pada Januari 2026 menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat. Beberapa anggota menginginkan pemotongan suku bunga jika kondisi inflasi terus membaik, sementara yang lain ingin menjaga suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mencerminkan ketidakpastian dalam kebijakan moneter AS. -
Data Ekonomi AS
Data ekonomi yang kuat dari AS menjadi salah satu faktor yang menyebabkan dolar AS menguat. Hal ini dapat memengaruhi harga komoditas, termasuk perak, karena dolar yang lebih kuat biasanya membuat komoditas yang diperdagangkan dalam dolar lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. -
Ketegangan Geopolitik
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dan situasi di Eropa yang tidak stabil memberikan dorongan positif bagi harga perak. Investor cenderung mencari aset yang aman saat ada risiko politik atau militer yang tinggi. -
Ekspektasi Suku Bunga
Meskipun ekspektasi pemotongan suku bunga oleh The Fed dikurangi, pasar masih memperkirakan adanya dua pengurangan suku bunga pada tahun ini. Hal ini memberikan dukungan psikologis bagi harga logam mulia.





