Dampak Perang AS-Israel-Iran Mengguncang Pasar, Emas Jadi Incaran

851d1630 F0ef 11ee 9c46 151a4c7500cd 10
851d1630 F0ef 11ee 9c46 151a4c7500cd 10

Kenaikan Harga Emas Akibat Ketegangan Geopolitik

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah telah memicu kenaikan tajam pada harga emas. Hal ini terjadi karena para investor beralih ke aset yang dianggap aman atau safe haven, seperti emas dan perak, dalam menghadapi ketidakpastian pasar global.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa harga logam mulia melonjak di pasar internasional, sekaligus meningkatkan volatilitas pada berbagai kelas aset, termasuk energi dan saham. Di tengah situasi ini, emas menjadi pilihan utama bagi para pelaku pasar yang ingin melindungi nilai investasi mereka dari ancaman geopolitik.

Harga Emas Melonjak Mendekati Rekor Tertinggi

Pada perdagangan berjangka di Chicago Mercantile Exchange (CME) pada Minggu (1/3/2026), kontrak emas tercatat melambung hingga $5.296,4 per ons. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp16.800 per dollar AS, nilai tersebut setara dengan Rp88,98 juta per ons.

Lonjakan harga ini terjadi tepat setelah munculnya laporan mengenai ancaman baru dari Donald Trump menyusul tewasnya pemimpin Iran, Khamenei. Peristiwa ini memperparah ketegangan di kawasan Timur Tengah, sehingga memicu respons pasar yang sangat agresif.

Emas dan Perak sebagai Aset Penyelamat

Selain emas, harga perak juga ikut naik. Saat ini, harga perak berada di kisaran lebih dari $92 per ons atau sekitar Rp1,55 juta per ons. Fenomena ini mencerminkan respons risk-off pasar global, di mana investor menarik dana dari aset berisiko seperti saham dan beralih ke logam mulia yang memiliki nilai intrinsik stabil.

Analis pasar dari Global Times, Yang Yang, menjelaskan bahwa serangan militer AS-Israel terhadap Iran menjadi katalis utama yang mengubah peta portofolio investor global. Ia menilai bahwa peningkatan ketegangan geopolitik telah meningkatkan premi risiko, yang berpotensi memicu lonjakan harga yang signifikan pada pembukaan pasar awal pekan.

Prediksi Harga Emas Menuju Level Baru

Meskipun harga saat ini sudah sangat tinggi, para ahli memprediksi tren penguatan masih akan berlanjut. Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, menyebutkan bahwa selama risiko geopolitik masih tinggi, permintaan akan instrumen lindung nilai tidak akan surut.

Para analis memproyeksikan target harga berikutnya untuk harga emas dunia 2026 berada di level $5.450 per ons (sekitar Rp91,56 juta). Namun, angka ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh $5.608 per ons pada Januari 2026 lalu.

Dampak Sistemik pada Energi dan Keuangan

Selain logam mulia, pasar energi global kini berada dalam posisi waspada tinggi. Fokus utama tertuju pada stabilitas Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling krusial di dunia. Gangguan di kawasan ini diprediksi tidak hanya akan menaikkan harga emas, tetapi juga memicu inflasi energi global yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral dunia.

Kombinasi antara ketegangan militer dan volatilitas pasar menunjukkan bahwa emas tetap menjadi pilihan utama penyimpan nilai di tengah krisis. Investor kini menanti respons pasar reguler pada Senin pagi untuk melihat sejauh mana eskalasi ini akan merombak tatanan ekonomi internasional.


Pos terkait