Dampak Perang Iran pada Jamaah Umrah Solo
Perang yang terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini berdampak pada jamaah umrah asal Indonesia, termasuk dari Solo. Sejumlah keberangkatan dibatalkan, sementara jamaah yang seharusnya kembali menghadapi penundaan penerbangan. Pengusaha perjalanan haji dan umrah harus menanggung biaya tambahan untuk merubah jadwal agar jamaah tetap bisa menjalankan ibadah.
Kondisi Terkini di Kalangan Pengusaha Travel
Ketua Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) Kota Solo, Her Suprabu, menyampaikan bahwa pihaknya kini terimbas karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk merubah jadwal jamaah. Ia menjelaskan bahwa re-rute pasti akan berdampak pada selisih harga tiket. Namun, fokus utamanya adalah memastikan jamaah tetap bisa berangkat karena ada risiko hotel dan visa yang bisa hangus.
“Nanti kalkulasi nya kita lihat dan butuh proses,” ujarnya saat dikonfirmasi. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antar pengusaha dalam menghadapi tantangan ini serta keselamatan jamaah sebagai prioritas utama.
Her Suprabu menjelaskan bahwa biro yang dipimpinnya mengalami kendala keberangkatan dan kepulangan jamaah akibat pecahnya perang di Iran. Situasi ini tidak bisa diprediksi, dengan eskalasi mendadak di Timur Tengah yang berdampak langsung pada bisnis umrah. Banyak penerbangan yang ter-cancel baik yang berangkat maupun yang pulang.
Di biro tersebut, tercatat setidaknya tiga grup umrah masih terhambat penerbangannya untuk kembali ke Tanah Air. “Ada kalau di tempat kami sudah tiga hari ada 1 grup dan hari ini ada 2 grup lagi yang belum bisa pulang karena pesawatnya pakai EQ dengan standar keamanan tinggi jadi membatalkan semua,” jelas Her Suprabu.
Perbedaan Penerbangan Direct dan Transit
Her Suprabu menekankan bahwa pembatalan penerbangan terutama terjadi pada pesawat dengan rute transit atau non-direct, sedangkan penerbangan direct relatif aman. “Tapi untuk pesawat yang direct seperti Garuda Alhamdulillah keberangkatan dan kepulangan masih lancar. Seperti hari ini kami masih ada keberangkatan, kemarin juga ada kepulangan masih lancar.”
Namun, untuk pesawat-pesawat yang transit, terutama di Doha (Qatar) dan Emirat, jamaah tidak bisa diberangkatkan maupun dipulangkan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pengusaha travel.
Dampak Terhadap Jamaah dan Strategi Travel
Meski situasi perang menimbulkan kekhawatiran, Her Suprabu menilai kondisi ini tidak signifikan menurunkan jumlah jamaah. Namun, beberapa jamaah memilih menjadwalkan ulang keberangkatan. “Ya nggak lah kalau umrah ini kan memang panggilan. Karena berangkat ini kan pasti ibadah dan ibadah pasti diniati untuk ibadah.”
Ia menjelaskan bahwa jika situasi seperti ini terjadi, keputusan kembali kepada jamaah. Di tempatnya, ada beberapa jamaah yang memilih menjadwalkan ulang keberangkatan. Namun, jika keberangkatan ditunda, ada konsekuensinya karena hotel dan pesawat sudah dipesan. Refund hanya bisa dilakukan jika pesawat dibatalkan.
Kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, dan Her meyakini kondisi akan kembali normal saat eskalasi menurun. “Oh iya pasti, beberapa jamaah sebelum berangkat masih was berangkat atau tidak. Tapi Alhamdulillah tadi pagi kita juga ada keberangkatan dan lancar untuk keberangkatan direct.”
Dalam situasi ini, pihaknya memindahkan jamaah ke pesawat-pesawat direct. Jika ada yang tidak ingin, itu bisa dijadwalkan ke kesempatan lain. “Tapi tingkat pembatalan masih di bawah 5 persen misal satu grup 45 jamaah, yang batalin ya 5 jamaah dan lainnya tetap diberangkatkan.”





