Pefindo: Investor Asing Masih Berhati-hati di Pasar Obligasi Domestik
Jakarta – Pefindo memprediksi bahwa investor asing masih melakukan penyesuaian taktis untuk masuk ke pasar obligasi domestik saat ini, meskipun ada peningkatan ketegangan global antara Iran dan Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Suhindarto, Ekonom Utama dan Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo.
Menurutnya, dalam situasi ketegangan tersebut, permintaan terhadap aset safe haven meningkat secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan harga emas yang melonjak dari US$4.319,37 per troy ounce pada akhir 2025 menjadi US$5.380,2 per 2 Maret 2026. Selain itu, harga minyak Brent juga naik dari US$60,85 menjadi US$78,3 per barel.
Kondisi risk off global ini berpotensi mengalirkan dana ke obligasi emerging markets, termasuk Indonesia. Meski demikian, Suhindarto menilai arus masuk asing kemungkinan terbatas secara bertahap dan belum melihat indikasi lonjakan arus masuk dalam skala besar.
Jika stabilitas pasar dapat dijaga, sentimen risk-off akan menciptakan peluang penerbitan obligasi korporasi. Penurunan yield US Treasury dapat membuka ruang bagi pricing global bond yang lebih kompetitif, terutama jika volatilitas domestik mereda.
Kenaikan Biaya Dana dan Perluasan Spread
Di sisi lain, kenaikan Credit Default Swap (CDS) dan yield domestik menunjukkan bahwa biaya dana masih relatif tinggi. Yield obligasi pemerintah tenor 3 tahun berada pada level 5,40%, sedangkan kurva korporasi meningkat dibandingkan awal Januari 2026.
Suhindarto menjelaskan bahwa minat penerbitan obligasi korporasi di tengah sentimen global cenderung selektif, dengan pertimbangan yield pasar dan kebutuhan untuk refinancing jatuh tempo. Emiten dengan peringkat lebih tinggi kemungkinan memiliki fleksibilitas lebih besar, sedangkan emiten dengan peringkat lebih rendah akan menghadapi kupon yang lebih mahal dalam kondisi premi risiko yang meningkat.
Eskalasi global juga berpotensi membuat yield domestik tetap dalam tekanan meskipun yield global turun. Data Pefindo menunjukkan bahwa yield US Treasury 10 tahun turun dari 4,2925% pada 20 Januari 2026 menjadi 3,938% pada 27 Februari 2026. Namun, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik dari 6,07% pada akhir 2025 menjadi 6,50% pada 2 Maret 2026.
Kondisi ini menunjukkan pelebaran spread dan peningkatan premi risiko.
Kepemilikan Asing di Surat Utang Negara
Sejauh ini, data kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) belum menunjukkan akumulasi yang konsisten. Kepemilikan asing masih lebih rendah dibandingkan akhir 2025, dan CDS terus meningkat.
Arus asing di obligasi pemerintah hingga cut off pada akhir Februari 2026 masih mencatatkan net sell secara kumulatif. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dan Bloomberg yang diolah Pefindo menunjukkan bahwa kepemilikan asing di SUN turun dari Rp879 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp875,4 triliun per 27 Februari 2026. Kepemilikan asing berkurang sekitar Rp3,6 triliun secara year-to-date.
Meski sempat terjadi fase net buy asing yang naik ke Rp890 triliun pada 6 Februari 2026, posisi tersebut tidak bertahan lama. Dalam tiga minggu berikutnya, kepemilikan asing kembali turun ke Rp875,4 triliun, artinya terjadi pelepasan sekitar Rp14,6 triliun dari level tertinggi Februari.
Preferensi Investor Asing yang Berhati-hati
Pola net sell kumulatif ini mengindikasikan preferensi investor asing yang masih berhati-hati terhadap risiko Indonesia. Hal ini tercermin dari kenaikan CDS 5 tahun Indonesia dari 68,86 pada akhir 2025 menjadi 83,86 pada 27 Februari 2026.
Penyematan outlook negatif dari Moody’s, serta peringatan dini dari lembaga pemeringkat lain seperti S&P Global atas risiko fiskal yang bisa berujung pada penurunan peringkat sovereign Indonesia, telah menjadi perhatian investor global yang memilih untuk bersikap hati-hati.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik dari 6,07% menjadi 6,427% secara year to date. Yield US Treasury 10 tahun justru turun dari 4,167% menjadi 3,938%.
“Kombinasi ini menurut kami menunjukkan bahwa peningkatan premi risiko domestik lebih dominan dibanding dorongan risk off global ke obligasi Indonesia,” imbuhnya.





