Ekspor Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Lampung
Ekspor tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung. Namun, kini ada kekhawatiran bahwa kebijakan tarif masuk Amerika Serikat sebesar 19 persen bisa memengaruhi kinerja ekspor daerah ini.
Pertumbuhan ekonomi Lampung pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,28 persen, dengan kontribusi ekspor mencapai 3,81 persen. Dosen Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung, Asrian Hendi Cahya, mengatakan bahwa sektor ekspor masih menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas dan akselerasi pertumbuhan ekonomi Lampung ke depan.
Menurut Asrian, kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi sangat signifikan. Ia menilai bahwa meskipun terjadi dinamika perdagangan global, kinerja ekspor Lampung tetap positif selama tiga tahun terakhir, yaitu dari 2023 hingga 2025.
Secara volume, ekspor Lampung justru tumbuh dari tahun ke tahun. Tercatat dari tahun 2023, volume ekspor sebesar 5,84 persen, meningkat di tahun 2024 menjadi 55,71 persen, dan kemudian meningkat lagi pada 2025 menjadi 7,20 persen.
“Artinya, volume ekspor tetap naik. Jadi secara kuantitas, kinerja ekspor kita masih menunjukkan tren positif,” ujarnya.
Asrian menilai bahwa secara umum, ekspor Lampung tetap tumbuh cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan tarif resiprokal yang berkembang di tingkat global tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor daerah.
“Bisa dikatakan tidak terlalu berpengaruh terhadap ekspor Lampung. Karena faktanya, pertumbuhan tetap terjadi dan relatif tinggi,” jelasnya.
Namun demikian, Asrian mengingatkan bahwa persoalan struktural perdagangan Lampung masih menjadi pekerjaan rumah. Selama periode 2023 hingga 2025, neraca perdagangan daerah tercatat selalu defisit karena nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor.
“Hampir setiap tahun impor kita lebih besar daripada ekspor. Ini yang perlu menjadi perhatian,” katanya.
Ekspor Lampung ke AS Tembus Rp 17 Triliun
Amerika Serikat masih menjadi magnet utama tujuan produk-produk unggulan Lampung. Sepanjang 2025 lalu, nilai ekspor ke AS mencapai 1.019,46 juta dolar AS atau setara Rp 17,08 triliun.
Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Muhammad Sabiel Adi Prakasa mengatakan, selama 2025 lalu, total nilai ekspor Lampung menembus angka 6,64 miliar dolar AS atau sekitar Rp 111,3 triliun. Capaian ekspor ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 18,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang hanya mencapai 5,59 miliar dolar AS (sekitar Rp 93,7 triliun).
Pada pengujung tahun 2025 lalu, nilai ekspor Lampung selama bulan Desember tercatat sebesar 661,98 juta dolar AS atau sekitar Rp 11,09 triliun. Nilai ekspor ini menunjukkan peningkatan 16,19 persen secara year-on-year (yoy) bila dibandingkan dengan nilai ekspor di bulan Desember 2024 yang mencapai 569,76 juta dolar AS.
Sabiel memaparkan bahwa mayoritas pengiriman barang ke luar negeri dilakukan langsung melalui pintu-pintu keberangkatan di Lampung. Dari total ekspor sepanjang periode Januari-Desember 2025, sebanyak 78,59 persen melalui pelabuhan yang berada di Provinsi Lampung, atau senilai 5,22 miliar dolar AS (sekitar Rp 87,5 triliun).
Ada enam pelabuhan lokal yang menjadi akses arus logistik ekspor Lampung, yakni KSOP Panjang dan KSOP Pelindo (Bandar Lampung), Pelabuhan Labuhan Maringgai (Lampung Timur), Kota Agung (Tanggamus), Kuala Teladas (Tulangbawang), dan KSOP Bakauheni (Lampung Selatan). Selain itu, komoditas asal Lampung masih ada yang dikirim melalui pelabuhan luar daerah, salah satunya Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Dilihat berdasarkan negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi magnet utama tujuan produk-produk unggulan Lampung. Sepanjang 2025, nilai ekspor ke AS mencapai 1.019,46 juta dolar AS atau setara Rp 17,08 triliun. Posisi kedua ada Pakistan dengan nilai 629,25 juta dolar AS (Rp 10,5 triliun) dan China di posisi ketiga dengan 623,88 juta dolar AS (Rp 10,4 triliun).
Adapun komoditas yang paling banyak dikirim dari Lampung didominasi lemak dan minyak hewan/nabati, yang didominasi produk turunan kelapa sawit. Komoditas ini mendominasi pasar dengan nilai mencapai 2.685,58 juta dolar AS (Rp 45,01 triliun). Selain minyak nabati, dua golongan besar lainnya yang menyumbang pundi-pundi rupiah adalah kopi, teh, dan rempah-rempah, senilai 1.699,30 juta dolar AS (Rp 28,4 triliun), serta bahan bakar mineral senilai 743,88 juta dolar AS (Rp 12,4 triliun).
Dengan performa yang terus meroket, Sabil berharap sektor ekspor tetap menjadi motor penggerak utama kesejahteraan masyarakat Lampung di tahun 2026.





