Dedi Mulyadi Janjikan Bawa Vina Cirebon, Korban Pengantin Pesanan di Tiongkok, Sindir Janji Manis

Sugi Purnamawati 32 Korban Tppo Pengantin Pesanan Saat Sudah Tibas 1
Sugi Purnamawati 32 Korban Tppo Pengantin Pesanan Saat Sudah Tibas 1

Pernyataan Gubernur Jawa Barat Mengenai Kasus Vina

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, menyampaikan pernyataan tegas mengenai kasus Vina, seorang perempuan asal Desa Gombang, Kabupaten Cirebon yang diduga terjebak dalam sindikat nikah pesanan di China. Pernyataan ini disampaikan saat ia berada di atas panggung Safari Ramadan ‘Tarling Neuleuman Poekna Peuting’ di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Sabtu (28/2/2026) malam.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan segera turun tangan untuk menangani kasus Vina. Ia memastikan bahwa warga Jawa Barat yang berada di luar negeri akan diberikan perlindungan dan bantuan seperti layaknya warga lainnya.

“Aspek komunikasi, insyaallah nanti ditangani (kasus Vina warga Gombang), akan dijemput seperti warga yang lain ketika di luar negeri. Nanti saya sampaikan ke Bupati datanya,” ujar Dedi dalam sambutannya.

Pernyataan tersebut langsung disambut dengan tepuk tangan oleh warga yang hadir di acara tersebut. Dalam pidatonya, Dedi juga menyentil fenomena perempuan Jawa Barat yang mudah tertarik pada janji-janji pernikahan ke luar negeri.

“Banyak sekali perempuan Jawa Barat ini yang mudah tergoda oleh janji uang, janji dinikahi dengan mahar yang mewah. Pada akhirnya, seluruh janji itu tidak ditepati, seperti janjinya politisi,” katanya, yang disambut tawa hadirin.

Ia juga berkelakar dengan menyampaikan bahwa dirinya adalah seorang politisi. “Tepuk tangan! Saya politisi,” jelas dia.

Pentingnya Kepemimpinan yang Berorientasi Rakyat

Dedi Mulyadi menekankan pentingnya kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan rakyat. Ia menjelaskan bahwa atribut seperti partai, golongan, atau ormas tidak lagi menjadi prioritas bagi seorang pemimpin.

“Saya tidak akan pernah memimpin membicarakan dari mana partainya, dari mana golongannya, dari mana ormasnya. Seluruh atribut itu hilang ketika kita jadi pemimpin. Yang ada hanya satu: kepentingan rakyat yang harus lebih utama dari kepentingan pribadi,” katanya.

Ia juga menyentil pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten. Menurutnya, masalah yang muncul bisa diselesaikan jika kedua pihak bekerja sama.

“Yang jelek, yang becek, yang bolong bisa dibikin halus selama bupatinya dengan gubernur bisa bekerja sama untuk membangun. Orang provinsinya banyak nanti memberikan jalan buat kabupaten. Kabupatennya harus banyak mampir untuk pembangunan Jawa Barat,” ujarnya.

Tanggapan Langsung dari Gubernur Jawa Barat

Sebelum menyampaikan pernyataannya di atas panggung, Vina diketahui telah melakukan panggilan video langsung dengan Dedi Mulyadi selama sekitar 25 menit pada hari yang sama. Dalam percakapan tersebut, Vina menjelaskan kronologi kejadian yang dialaminya.

“Responsif, om nanya kronologi. Vina ceritakan yang jujur biar gak blunder nanti ke Vina-nya,” ujar Vina saat berbincang dengan Tribun.

Dedi Mulyadi sempat menegur Vina karena menurutnya ia terlalu mudah tergiur. Namun, Vina menerima teguran tersebut karena ia sadar ada kesalahan dari pihaknya sendiri.

“Dia (Gubernur) sempet marahin Vina, katanya kenapa mau ya. Tapi Vina terima, karena memang ada kesalahan Vina juga kan,” ucapnya.

Vina juga menyampaikan keinginannya untuk segera dipulangkan. Ia mengaku semua berkasnya ditahan dan tidak tahu bahwa mereka adalah agen.

“Vina minta dibantu pulang pak, soalnya semua berkas ditahan. Vina gak tahu kalau mereka agen,” jelasnya.

Ia juga diminta untuk membagikan lokasi dan nomor pihak yang terlibat.

“Disuruh sharelock, kirim nomor pelaku sama kontak,” katanya.

Meski telah mendapat respons langsung dari orang nomor satu di Jawa Barat, rasa takut masih menghantuinya. Namun, ia mengaku mendapat penguatan dari Dedi Mulyadi.

“Katanya enggak, tenang aja. Kamu bakal dijemput orang KBRI. Semangat, kamu masih punya pemimpin di Jawa Barat,” tuturnya menirukan pesan yang diterimanya.

Awal Mula Kasus Vina

Kasus dugaan TPPO modus pengantin pesanan ini bermula dari perkenalan Vina di lingkungan kerjanya di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Ia mengaku mengetahui ajakan menikah sejak awal, namun tidak menyadari adanya dugaan sindikat.

“Sebenernya Vina memang setuju di awal dan tahu diajak nikah. Tapi sumpah demi Allah Vina gak tahu kalau mereka gerombolan agen dan sindikat. Vina tahunya setelah tiba di China,” katanya.

Setibanya di China, situasi disebut berubah. Ia mengaku mendapat ancaman saat mencoba membatalkan pernikahan.

“Vina bilang batalin aja gak jadi, tapi sudah terlanjur jebur. Gara-gara Vina banyak penolakan, masuklah ancaman pertama. Polisi setempat juga tahu karena Vina sempat kabur,” ujarnya.

Vina juga memastikan tidak ada kontrak resmi sebelum keberangkatan.

“Gak ada perjanjian atau kontrak, karena Vina pure gak tahu. Pembahasan mahar juga baru H-2,” ucapnya.

Peran Kuasa Hukum Keluarga

Kuasa hukum keluarga dari YLBHI Garuda Sakti sebelumnya menyebut rombongan warga negara asing sempat datang hingga empat kali ke rumah Vina di Gombang sebelum keberangkatan pada 7 Agustus 2025.

Kasus ini mencuat setelah video Vina menangis dan meminta pertolongan kepada Gubernur Jawa Barat viral di media sosial.

Pos terkait